Pantai Bandengan di Ujung Tahun: Antara Berkah Ekonomi dan Ancaman Ekologi

Ekonomi, Kolom, Opini43 Dilihat

Di penghujung tahun, Pantai Bandengan Jepara kembali menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan dari berbagai daerah. Keindahan pasir putih, ombak tenang, dan fasilitas rekreasi yang terus berkembang menjadikan kawasan ini sebagai ikon pariwisata Jepara. Namun, di balik meriahnya aktivitas liburan, muncul pertanyaan penting mengenai keseimbangan antara manfaat ekonomi dan potensi kerusakan lingkungan yang mengintai.

Momentum liburan akhir tahun membawa dampak ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat sekitar. Pedagang makanan, penyewa banana boat, tukang parkir, UMKM kerajinan, hingga pemilik penginapan merasakan kenaikan pendapatan yang signifikan. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Moh. Eko Udyono, menyampaikan bahwa jumlah kunjungan ke Pantai Bandengan pada akhir tahun dapat meningkat hingga lebih dari 40 persen dibandingkan hari biasa. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa sektor pariwisata berperan sebagai salah satu penggerak utama perekonomian lokal, terutama pada musim liburan.

Manfaat ekonomi tersebut semakin terlihat melalui keterangan Arif Junaidi, Manajer Pantai Bandengan, yang menyebutkan bahwa omzet pedagang dan penyedia jasa wisata mengalami peningkatan selama periode liburan. Menurutnya, akhir tahun merupakan masa dengan tingkat kunjungan tertinggi, yang ditandai oleh membludaknya jumlah wisatawan serta meningkatnya pendapatan hampir seluruh pelaku usaha di kawasan pantai.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh pelaku usaha penyewaan pelampung bebek di kawasan Pantai Bandengan. Pada minggu-minggu awal Desember, peningkatan penghasilan dinilai belum terlalu signifikan karena belum memasuki puncak libur sekolah. Namun demikian, minat wisatawan untuk berkunjung dan menyewa pelampung mulai menunjukkan kenaikan sekitar 10-15 persen. Pelaku usaha memprediksi lonjakan terbesar akan terjadi menjelang libur Natal dan Tahun Baru, sekitar tanggal 21 Desember, di mana pendapatan diperkirakan dapat meningkat hingga dua kali lipat, sebagaimana yang terjadi pada periode liburan tahun sebelumnya.

Seiring dengan peningkatan aktivitas wisata tersebut, dampak lingkungan menjadi perhatian yang tidak bisa diabaikan. Volume sampah di kawasan Pantai Bandengan berpotensi meningkat seiring bertambahnya jumlah pengunjung. Meskipun pada awal musim liburan perbedaan jumlah sampah belum terlalu terasa, pengalaman pada puncak libur Natal dan Tahun Baru tahun sebelumnya menunjukkan bahwa volume sampah dapat meningkat hingga mendekati dua kali lipat. Sampah plastik sekali pakai, botol minuman, dan sisa bekal piknik sering ditemukan di sepanjang garis pantai. Kondisi ini bukan hanya mengurangi keindahan pantai, tetapi juga membahayakan biota laut dan ekosistem pesisir.

Aktivitas wisata air seperti banana boat dan jetski juga memberi tekanan tersendiri terhadap lingkungan. Kebisingan, polusi bahan bakar, serta kemungkinan risiko tumpahan oli ke laut menjadi ancaman bagi ekosistem laut dangkal. Selain itu, kemacetan di jalur menuju pantai, terutama saat akhir pekan dan liburan panjang, turut memicu polusi udara dan menambah beban lingkungan sekitar.

Dalam konteks teori pembangunan berkelanjutan, pariwisata idealnya menjadi kegiatan yang menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Artinya, peningkatan kunjungan seharusnya diikuti dengan kebijakan pengelolaan yang mampu melindungi alam dari eksploitasi berlebihan. Sayangnya, banyak destinasi wisata alam yang belum memiliki manajemen daya dukung yang memadai, termasuk Pantai Bandengan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jepara menegaskan bahwa pengelolaan sampah wisata perlu menjadi perhatian utama seiring tingginya aktivitas rekreasi di kawasan pesisir. Upaya tersebut harus disertai dengan pemberian edukasi serta penyediaan fasilitas yang memadai bagi pengunjung agar aktivitas wisata tidak meninggalkan dampak kerusakan lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip responsible tourism, yang menempatkan wisatawan tidak hanya sebagai penikmat keindahan alam, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan.

Pakar lingkungan pesisir, Dr. Arif Wibowo, berpandangan bahwa kawasan pantai seperti Bandengan perlu menerapkan pembatasan jumlah pengunjung pada waktu-waktu tertentu serta memperluas zona hijau sebagai langkah pencegahan abrasi. Lonjakan wisata akhir tahun, apabila tidak diikuti dengan pengelolaan yang terencana, berpotensi menurunkan kualitas ekosistem pesisir secara bertahap akibat tekanan aktivitas manusia yang berlebihan.

Selain itu, pengelola wisata dapat mengembangkan sistem tiket elektronik berbasis kuota harian yang bertujuan mengontrol jumlah pengunjung. Fasilitas tempat sampah terpilah dan program edukasi lingkungan bagi wisatawan juga harus diperkuat. Dengan strategi ini, Pantai Bandengan tidak hanya menjadi destinasi liburan, tetapi juga contoh praktik pariwisata berkelanjutan yang berhasil.

Dengan demikian, lonjakan wisata akhir tahun di Pantai Bandengan Jepara sejatinya adalah peluang sekaligus tantangan. Pariwisata memang menjadi sumber penghidupan penting bagi masyarakat, tetapi tanpa pengelolaan yang bijaksana, keindahan alam yang menjadi daya tarik utamanya justru bisa rusak. Oleh karena itu, semua pihak baik dari pemerintah, pengelola wisata, masyarakat lokal, hingga wisatawan memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian pantai.

Diharapkan Pantai Bandengan dapat menjadi destinasi yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologisnya. Dengan pengelolaan yang tepat, pantai ini dapat tetap menjadi warisan alam Jepara yang indah, lestari, dan bermanfaat bagi generasi mendatang.

Oleh Muhammad Eka Firdaus, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Unisnu Jepara