Menurut laporan Digital 2024 yang dirilis oleh We Are Social, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari di depan layar gawai. Angka ini bahkan mengalami peningkatan signifikan pada masa liburan panjang, ketika aktivitas kerja dan sekolah berkurang, sementara waktu luang justru lebih banyak diisi dengan konsumsi media digital. Ponsel pintar, media sosial, platform hiburan, dan gim daring menjadi teman utama dalam mengisi hari-hari libur. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh teknologi digital dalam membentuk pola hidup masyarakat modern, termasuk cara manusia mengatur waktu dan perhatian.
Di sisi lain, berbagai riset mengenai religiositas masyarakat Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan bahwa konsistensi ibadah sangat dipengaruhi oleh rutinitas harian dan struktur waktu. Ibadah cenderung lebih terjaga ketika seseorang memiliki jadwal hidup yang teratur, seperti jam kerja, waktu istirahat, dan aktivitas sosial yang stabil. Ketika rutinitas tersebut terganggu, misalnya pada masa liburan panjang, praktik ibadah berpotensi mengalami pelonggaran. Kondisi ini menegaskan bahwa liburan tidak hanya memengaruhi ritme sosial dan pekerjaan, tetapi juga kehidupan spiritual masyarakat modern.
Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa ibadah sangat berkaitan erat dengan kebiasaan hidup sehari-hari. Ketika rutinitas berubah, seperti saat liburan panjang, pola ibadah pun sering kali ikut berubah. Waktu tidur menjadi tidak teratur, aktivitas harian cenderung lebih santai, dan godaan hiburan semakin banyak. Dalam situasi seperti ini, ibadah sering kali tidak lagi menjadi prioritas utama. Akibatnya, setelah liburan berakhir, tidak sedikit orang yang merasa kesulitan untuk kembali pada kebiasaan ibadah yang sebelumnya sudah terjaga dengan baik.
Di sinilah tantangan kehidupan modern terasa semakin nyata. Gaya hidup yang serba fleksibel, cepat, dan menuntut kepraktisan membuat ibadah mudah tertunda. Ibadah kerap dianggap sebagai aktivitas yang bisa dilakukan nanti, setelah semua urusan lain selesai.
Padahal, jika kebiasaan menunda ini dibiarkan, ia bisa berkembang menjadi pola hidup yang melemahkan konsistensi ibadah. Liburan panjang pada akhirnya menjadi ujian sederhana, apakah ibadah seseorang hanya bergantung pada suasana dan rutinitas eksternal, atau sudah benar-benar menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks ini, pemikiran sosiolog Max Weber menjadi relevan untuk dibahas. Weber menjelaskan bahwa masyarakat modern cenderung mengalami proses rasionalisasi, yakni cara pandang yang menilai segala sesuatu berdasarkan efisiensi, manfaat langsung, dan hasil yang cepat dirasakan. Masalahnya, ibadah tidak selalu memberikan dampak instan yang bisa diukur secara material. Oleh karena itu, ketika waktu libur lebih banyak diisi dengan hiburan dan kesenangan yang memberi kepuasan langsung, ibadah sering dianggap tidak mendesak dan mudah ditinggalkan.
Psikolog William James menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan secara rutin berfungsi membentuk kebiasaan batin. Kebiasaan ini membantu seseorang merasa lebih tenang, terarah, dan memiliki makna hidup yang lebih dalam. Ibadah bukan sekadar aktivitas ritual, melainkan latihan psikologis dan spiritual yang membentuk karakter. Ketika rutinitas ibadah terputus, seperti setelah liburan panjang, banyak orang merasa berat untuk memulainya kembali. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi juga membutuhkan latihan dan pembiasaan yang terus-menerus.
Pandangan serupa disampaikan oleh sosiolog Émile Durkheim yang menekankan pentingnya ritual dalam menjaga keteraturan hidup manusia. Menurut Durkheim, ritual membantu individu tetap terhubung dengan nilai, norma, dan aturan yang diyakini bersama. Jika ritual ini melemah, seseorang berisiko kehilangan arah, kedisiplinan, dan kontrol diri.
Dalam kehidupan modern, kondisi ini sering terlihat dalam bentuk sulit mengatur waktu, mudah terdistraksi, dan menurunnya kemampuan menahan godaan, termasuk dalam hal menjalankan ibadah.
Pemikir Muslim kontemporer Seyyed Hossein Nasr juga mengingatkan bahwa manusia modern sering kali terlalu sibuk dengan urusan lahiriah hingga melupakan kedalaman batin. Ia menyebut bahwa krisis terbesar manusia modern bukanlah kekurangan teknologi, melainkan hilangnya kesadaran akan Tuhan. Dalam pandangan ini, ibadah berfungsi sebagai sarana untuk mengembalikan manusia pada pusat kehidupannya. Ketika ibadah mulai diabaikan atau dilakukan secara tidak teratur, hidup pun terasa kering, kosong, dan kehilangan arah makna.
Dalam ajaran Islam sendiri, menjaga ibadah secara konsisten dikenal dengan istilah istiqamah. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit. Pesan ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Di tengah budaya yang serba cepat, instan, dan penuh distraksi, konsistensi ibadah justru menjadi tantangan sekaligus bukti kedewasaan spiritual seseorang. Karena itu, menjaga ibadah setelah liburan panjang perlu dimulai dari langkah-langkah sederhana. Mengatur kembali waktu tidur, membatasi distraksi digital, serta menetapkan jadwal ibadah yang realistis dapat membantu proses penyesuaian. Teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganggu. Lebih penting lagi, ibadah perlu dipahami sebagai kebutuhan hati dan jiwa, bukan sekadar kewajiban formal yang terasa memberatkan.
Pada akhirnya, modernitas dan spiritualitas tidak harus saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan seimbang jika manusia mampu mengatur prioritas hidupnya dengan bijak. Liburan panjang seharusnya tidak hanya menjadi waktu untuk menyegarkan fisik dan pikiran, tetapi juga kesempatan untuk menyegarkan hubungan dengan Tuhan. Ketika liburan berakhir, kembali menjaga konsistensi ibadah menjadi langkah penting untuk menata kehidupan agar tetap seimbang. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, ibadah yang terjaga menjadi pegangan agar manusia tidak kehilangan arah dan makna hidup.
(Oleh Fatkhur Rahman Syadzili, Mahasiswa Prodi KPI UNISNU Jepara)






