Cetak Jurnalis Muda, FKD Unisnu Bekali Siswa MA Miftahul Huda Teknik ‘Branding’ Madrasah

Berita, Pendidikan87 Dilihat

Jepara, Fokuspres.com  – Semangat literasi menyelimuti Aula MA Miftahul Huda Bulungan, Pakisaji, saat puluhan siswa kelas X hingga XII mengikuti Pelatihan Menulis Berita pada Sabtu (13/02/2026). Kegiatan yang menghadirkan Wakil Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain (FKD) Unisnu Jepara, Khoirul Muslimin, sebagai pemateri ini bertujuan untuk mengasah kepekaan siswa terhadap peristiwa sekaligus melatih keterampilan mereka dalam merangkai informasi secara sistematis.

Perwakilan dewan guru, Nurus Salam, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas kolaborasi ini. Ia menekankan bahwa kemampuan menulis berita bagi siswa kini menjadi aset penting untuk memperkuat branding madrasah dan memperluas jangkauan publikasi kegiatan sekolah ke khalayak umum. Nurus berharap ilmu kejurnalistikan yang didapatkan mampu membekali Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU di MA Miftahul Huda agar memiliki program literasi rutin yang berdampak pada peningkatan kualitas publikasi informasi di lingkungan madrasah.

Dalam sesi pemaparan materi, Khoirul Muslimin membedah secara mendalam teknik menulis straight news dengan berpegang pada rumus dasar 5W+1H. Ia menjelaskan bahwa setiap naskah berita harus memiliki anatomi yang lengkap, mulai dari headline, lead, body, hingga leg berita, guna memastikan informasi tersampaikan secara akurat. Dalam praktiknya, bagian lead bertugas merangkum unsur apa, siapa, kapan, dan di mana, sementara bagian body berfungsi mengembangkan penjelasan terkait mengapa dan bagaimana suatu peristiwa terjadi melalui fakta tambahan serta kutipan narasumber.

Lebih lanjut, Khoirul juga menekankan pentingnya menjaga otentisitas dan keterbacaan berita melalui kombinasi kalimat langsung dan tidak langsung. Penggunaan kalimat langsung sangat krusial untuk menampilkan pernyataan asli narasumber, sementara kalimat tidak langsung digunakan untuk menyederhanakan informasi agar lebih komunikatif. Selain aspek teknis, ia turut menyoroti etika jurnalistik terkait penulisan identitas narasumber. Menurutnya, jurnalis profesional wajib menanggalkan kata sapaan seperti Bapak, Ibu, maupun gelar akademik guna menjaga prinsip kesetaraan, objektivitas, dan fokus pada substansi informasi yang disampaikan.

Antusiasme peserta terlihat jelas hingga akhir acara, salah satunya diungkapkan oleh Citra, peserta pelatihan yang merasa mendapatkan pengalaman baru dalam dunia kepenulisan. Ia mengaku lebih memahami cara menyampaikan informasi yang runtut namun tetap menarik untuk dibaca. Baginya, pelatihan semacam ini sangat bermanfaat untuk membuka wawasan jurnalisme di kalangan pelajar dan diharapkan dapat menjadi program berkelanjutan di masa depan.