Cilung jajanan SD menolak punah, sukses dapat omset jutaan

Berita, Ekonomi133 Dilihat

Tahunan, Fokuspers.com — Aroma gurih yang menguar dari wajan kecil di tepi jalan itu seolah menarik orang untuk menoleh. Bagi sebagian orang, baunya bahkan mengingatkan pada masa-masa sekolah dasar. Cilung, jajanan sederhana yang sudah lama dikenal, masih punya tempat di hati banyak orang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Di depan SMA Negeri 1 Tahunan, seorang penjual tampak cekatan meracik adonan. Bumbu khas racikan Brebes menjadi ciri yang sulit dilewatkan. Pembeli pun bisa menyaksikan langsung proses pembuatannya. Meski lapaknya kerap membuat sisi jalan sedikit padat, suasana itu justru terasa hidup dengan suara desis minyak panas bercampur dengan lalu lalang kendaraan dan obrolan para pembeli.

Ata (28), penjual cilung di lokasi tersebut, sudah memulai usahanya sejak 2014. Awalnya, ia menjajakan berbagai jajanan seperti telur gulung dan agar-agar. Namun sejak 2018, ia memilih fokus berjualan cilung hingga sekarang. Setiap hari, ia berjualan dari pukul 09.00 hingga 16.00, dan dagangannya kerap habis.

“Sehari bisa habis sekitar 300 tusuk. Kalau ramai, penghasilan bisa lebih dari Rp400 ribu per hari. Kalau sepi, sekitar Rp200 ribuan. Itu belum dipotong biaya bahan yang biasanya di atas atau di bawah Rp150 ribu,” ujar Ata saat ditemui di Tahunan, Senin (27/04/26).

Menurutnya, hari-hari awal pekan cenderung lebih sepi. Aktivitas pembeli baru terasa meningkat menjelang akhir pekan. Menariknya, sebagian besar pembeli justru bukan pelajar.

“Biasanya sepi itu Senin sampai Kamis. Mulai Jumat sampai Minggu baru ramai. Kebanyakan yang beli malah mahasiswa, pekerja, atau orang yang lewat. Nama depan SMA itu lebih jadi patokan lokasi saja,” katanya.

Dalam sebulan, penghasilannya bisa mencapai Rp6 hingga Rp8 juta. Pendapatan tersebut ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari membayar kontrakan hingga menabung.

Pria asal Brebes itu mengaku memilih berjualan karena alasan ekonomi. Sebelum menetap di Jepara, ia sempat berdagang di Solo. Kepindahannya ke Tahunan bermula dari ajakan teman sesama perantau yang lebih dulu berjualan di sekitar SMA Negeri 1 Tahunan.

Di sisi lain, cilung racikan Ata punya pelanggan setia. Vina, salah satunya, mengaku sudah menyukai jajanan ini sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Hingga kini, ia masih rutin membeli saat pulang sekolah.

“Cilung buatan Kak Ata beda, rasanya enak dan bumbunya bisa disesuaikan. Mau sedikit atau banyak, dicampur atau satu rasa juga bisa. Orangnya juga ramah, jadi nyaman. Cuma kadang agak susah parkir atau tempatnya sedikit jauh,” ujar Vina.