Ibu Juwariyah: Jejak Sunyi Penggerak Muslimat Ujungwatu

Ibu Juwariyah lahir di Jepara pada 12 April 1943. Di Desa Ujungwatu, namanya dikenal sebagai salah satu tokoh Muslimat Nahdlatul Ulama yang berpengaruh pada masanya. Pendidikan formal beliau ditempuh di Sekolah Rakyat. Meski sederhana, bekal itu tidak membatasi langkahnya. Ia justru dikenal mahir membaca dan memaknai kitab kuning dengan makna gandul, kemampuan yang tidak semua orang miliki saat itu.

Dalam keluarganya, Ibu Juwariyah merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Masing-masing saudara menekuni jalan hidup yang berbeda, dan berhasil di bidangnya. Ibu Juwariyah sendiri menorehkan kiprah sebagai pelopor berdirinya Muslimat di Desa Ujungwatu.

banner 336x280

Sehari-hari, beliau berdagang dan memiliki toko sembako. Usaha itu bukan hanya untuk menopang kebutuhan keluarga, tetapi juga menjadi sumber dukungan bagi kegiatan organisasi. Ia dikenal tidak pernah merasa eman ketika harus mengeluarkan biaya demi kelangsungan Muslimat. Bagi beliau, apa yang dimiliki adalah titipan yang bisa digunakan untuk perjuangan.

Dari pernikahannya dengan Bapak Sarmidi, beliau dikaruniai lima anak laki-laki. Di tengah perannya sebagai ibu dan pedagang, Ibu Juwariyah tetap menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupan keluarga. Pendidikan keagamaan menjadi fondasi utama yang ia ajarkan kepada anak-anaknya.

Kesibukan tidak menghalanginya untuk terus aktif di kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Ia termasuk sosok yang berada di balik berdirinya Muslimat di Ujungwatu, bukan hanya sebagai penggagas, tetapi juga sebagai penyokong utama. Tenaga, pikiran, bahkan hartanya ia kerahkan demi kemajuan organisasi, tanpa pernah mengharap imbalan.

Beliau turut membantu mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK), mengupayakan pembangunan gedung Muslimat, serta merintis tempat mengaji sederhana yang kala itu hanya diterangi lampu berbahan minyak. Tempat mengaji tersebut masih bertahan hingga sekarang dan dikelola oleh anak bungsunya sebagai kelanjutan perjuangan sang ibu. Tidak hanya anak-anak yang ia rangkul, para ibu pun ia ajak aktif dalam kegiatan organisasi. Setiap ada warga yang meninggal dunia, beliau hadir, menyampaikan dakwah dan memberikan penguatan spiritual.

Dengan semangat yang tak surut, Ibu Juwariyah juga menghadirkan para kiai ke Ujungwatu setiap Jumat Kliwon menggunakan dana pribadi. Ia aktif mengikuti berbagai pertemuan organisasi dan selalu terlibat dalam setiap kegiatan. Bagi beliau, perjuangan dalam agama harus dilandasi keikhlasan. Prinsip hidupnya sederhana: berjuang tanpa pamrih.

Segala yang ia lakukan diniatkan sebagai ibadah kepada Allah Swt. Ia meyakini bahwa menghidupkan agama, yang sering ia sebut sebagai “nguerep-ngerep agamo” adalah tanggung jawab bersama. Pendidikan agama bagi anak-anak dan pembinaan bagi orang tua menjadi kunci keberkahan masyarakat. Menurutnya, agama tidak cukup diyakini, tetapi harus diamalkan dan dihidupkan dalam keseharian.

Hingga akhir hayatnya pada 2018, Ibu Juwariyah tetap memegang teguh kesederhanaan, ketekunan, dan pengabdian. Ia dikenal dermawan dan rela berkorban. Harta pribadinya kerap digunakan untuk mendukung kegiatan Muslimat, menghadirkan para kiai setiap Jumat Kliwon, hingga membangun sarana pendidikan dan gedung organisasi. Ia tidak pernah menghitung untung-rugi dalam perjuangan agama, karena percaya setiap pengorbanan akan menjadi amal jariyah.

Semangat belajar dan mengajarnya pun tak pernah padam, bahkan ketika fasilitas masih terbatas. Konsistensinya menjaga silaturahmi, keaktifannya dalam organisasi, serta komitmennya terhadap pendidikan agama menjadikan Ibu Juwariyah sosok sesepuh yang dihormati masyarakat Ujungwatu hingga kini.

Bagi beliau, hidup yang berarti adalah hidup yang meninggalkan jejak kebaikan, jejak yang tetap terasa meski raga telah tiada.