Jepara, Fokuspers.com – Di sebuah desa yang dikelilingi rimbunnya lereng gunung, lahir seorang laki-laki yang meyakini satu prinsip hidup: ilmu bukanlah perhiasan, melainkan jalan pengabdian. Dialah Imam Shofwan, sosok yang sepanjang hidupnya memilih untuk menjadi jembatan bagi pendidikan di Desa Tempur, meski jalan yang ditempuhnya tak jarang berbatu dan penuh aral.
Imam sofwan Lahir di Desa Tempur pada 14 desember 1958, beliau tumbuh dalam keluarga sederhana yang menempa keteguhan sikap dan keyakinannya pada satu hal: ilmu adalah jalan pengabdian.
Beliau merupakan anak kedua dari delapan bersaudara, bapaknya bernama suntono waris, seorang kebayan desa, ibunya yang meski buta huruf, memiliki keyakinan kuat pada pentingnya pendidikan. Kondisi ekonomi keluarga tergolong sulit. Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat orang tuanya untuk menyekolahkan seluruh anaknya. Ketika Muhari dipondokkan, orang tuanya bahkan masih menanggung biaya pendidikan tiga saudara lainnya. Dari situlah benih prinsip hidup Imam Shofwan tumbuh: pendidikan adalah warisan terbaik, melampaui harta benda.
Nama kecilnya Muhari, Seiring kedewasaan dan perjalanan hidup yang panjang dalam dunia pendidikan dan pengabdian sosial, beliau dikenal sebagai Imam Shofwan. Perubahan nama dari Muhari menjadi Imam Shofwan berkaitan dengan tradisi masyarakat Desa Tempur. Di desa ini terdapat kebiasaan bahwa setiap anak memiliki dua nama: nama kecil yang digunakan pada masa kanak-kanak dan nama dewasa yang telah dipersiapkan sejak kelahirannya. Nama dewasa biasanya mulai digunakan ketika seseorang memasuki fase kedewasaan atau setelah menikah ynag menandai telah siap memikul tanggung jawab sosial dan keagamaan.
Pendidikan formalnya dimulai di SD (lulus 1971) dan berlanjut ke SMP PGA Kelet. Namun, “kawah candradimuka” sebenarnya bagi Imam adalah Pondok Pesantren Mathali’ul Huda, Kajen. Di sana, karakternya dibentuk. Meski sempat keluar-masuk pondok demi mengejar ujian persamaan SMA—sebuah pilihan berisiko kala itu—ia tetap konsisten pada haus akan ilmu.
Sayangnya, mimpi melanjutkan ke bangku kuliah harus berdamai dengan kenyataan. Dengan tujuh saudara yang masih membutuhkan biaya, Imam memilih mengalah. Ia pulang ke desa, membawa ijazah pesantren sebagai bekal untuk berbakti, bukan untuk mencari kekayaan.
Pengabdiannya di dunia pendidikan dimulai saat ia menerima amanah wasiat untuk memimpin MTs Mathali’ul Huda. Di masa awal, MTs tersebut bahkan belum memiliki gedung. Di bawah kepemimpinannya hingga 1991, Imam mengajar tanpa gaji, hanya mengandalkan keikhlasan. Ia bahkan pernah merantau ke Jakarta menjadi kuli di toko material demi menyambung hidup keluarga, namun kerinduan pada anak dan panggilan jiwa untuk mengabdi di desa menariknya pulang pada malam yang sama setelah menerima gaji pertama.
Kembali ke Tempur, ia melanjutkan estafet perjuangan sebagai Kepala MI Duplak dan aktif dalam struktural Nahdlatul Ulama (NU). Selama tiga periode menjabat Ketua Ranting NU, Imam menjadi saksi dan pelaku sejarah perubahan cara pandang masyarakat terhadap organisasi tersebut.
Perjuangan Imam tidak selalu disambut senyum. Ia pernah diancam dengan golok di sebuah forum hanya karena menjelaskan tata kelola zakat fitrah. Saat itu, sebagian masyarakat yang masih awam mencurigai dana zakat digunakan untuk kepentingan organisasi. Dengan tenang dan transparan, ia menghadapi intimidasi tersebut, membuktikan bahwa zakat disalurkan secara amanah kepada para asnaf di Desa Tempur.
Baginya, konflik antar-sesama jauh lebih melelahkan daripada hidup berdampingan dengan umat agama lain. Di Desa Tempur, ia menyaksikan harmoni yang indah: masjid dan gereja berdiri berdampingan di Dukuh Pekoso, menjadi simbol toleransi yang tak tergoyahkan sejak sebelum 1982.
Kini, di masa tuanya, Imam Shofwan tetap bersahaja. Kesehariannya diisi dengan bertani dan mengajar dalam porsi terbatas. Ia telah berhasil mewujudkan mimpinya: menyekolahkan keempat anaknya hingga ke perguruan tinggi.
Motto hidupnya tetap teguh: “Menuntut ilmu untuk diamalkan dan diajarkan kepada masyarakat agar bermanfaat.” Bagi Imam, keberhasilan hidup tidak diukur dari jabatan atau kemilau materi, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan bagi orang lain. Di Desa Tempur, Imam Shofwan telah menyalakan cahaya, memastikan bahwa ketertinggalan tak lagi menggelapkan masa depan generasi penerusnya.








