Fokuspers.com — Ngatimah lahir di Desa Troso, Jepara, pada 1973. Perempuan berkulit sawo matang ini dikenal sebagai pribadi yang sederhana, ramah, dan mudah bergaul. Kepeduliannya terhadap keluarga maupun lingkungan membuatnya dihormati oleh warga sekitar. Di sela kesibukannya sebagai buruh tenun, ia gemar menyanyi dan melantunkan selawat sebagai cara mengisi waktu sekaligus menenangkan hati.
Sebagai anak pertama dalam keluarga, Ngatimah telah terbiasa memikul tanggung jawab sejak usia muda. Ia menempuh pendidikan di MI 01 Troso. Meski hanya mengenyam pendidikan hingga jenjang madrasah ibtidaiyah, semangat belajarnya tidak pernah surut. Pengalaman hidup di tengah keluarga sederhana membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan selalu berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang terdekatnya.
Dalam kehidupan rumah tangga, Ngatimah mendampingi suaminya, Sami’un, membangun keluarga dengan penuh kesederhanaan. Mereka dikaruniai empat orang anak, yakni Fatkhul Anam, Maghfirotun Nisa’, Indah Tri Wahyuni, dan Muhammad Maulana Syafi’i. Bersama suaminya, ia membesarkan anak-anak dengan menanamkan nilai agama, kerja keras, dan saling menghargai. Baginya, pendidikan bukan sekadar mengejar nilai, tetapi juga membentuk akhlak dan karakter.
Selain bekerja sebagai buruh tenun, Ngatimah pernah merintis usaha tenun kain sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Di lingkungan masyarakat, ia juga aktif mengikuti kegiatan keagamaan dan dipercaya memimpin pembacaan maulid dalam pengajian arisan ibu-ibu di mushala setempat. Keaktifannya membuat ia dikenal sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat.
Perjalanan hidup Ngatimah tidak selalu berjalan mudah. Pada awal membangun rumah tangga, ia dan keluarganya tinggal di rumah yang sangat sederhana dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Meski demikian, ia tidak membiarkan keadaan menjadi alasan untuk menyerah. Setiap hari dijalaninya dengan bekerja, berdoa, dan tetap meyakini bahwa usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa perubahan.
Kedekatan kepada Allah Swt. menjadi kekuatan yang selalu menyertai langkahnya. Ngatimah membiasakan diri mengaji, menjalankan puasa sunah, dan menjaga ibadah sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi berbagai ujian hidup. Nilai-nilai tersebut juga ia tanamkan kepada anak-anak tanpa memberikan tekanan agar selalu menjadi yang terbaik.
Perjuangan yang dijalaninya perlahan membuahkan hasil. Ia berhasil mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta memiliki kendaraan pribadi untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Namun, bagi Ngatimah, pencapaian terbesar bukanlah perubahan kondisi ekonomi, melainkan melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berpendidikan, religius, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Perjalanan hidup Ngatimah menunjukkan bahwa ketulusan, kesabaran, dan ketekunan mampu menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai keterbatasan. Dari seorang buruh tenun yang memulai hidup dengan segala kesederhanaan, ia membuktikan bahwa keluarga dapat dibangun melalui kerja keras, kasih sayang, dan keyakinan yang tidak pernah padam.
Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam pesan yang selalu ia sampaikan kepada anak-anaknya, “Jangan tinggalkan salat, jangan pernah menunda-nunda pekerjaan karena waktu yang terbuang akan menjadi penyesalan. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, semoga sukses dan memperoleh kehidupan yang lebih baik daripada ibumu ini.”
Bagi Ngatimah, kehidupan yang baik tidak hanya diukur dari keberhasilan memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga dari kemampuan menjaga iman, menghargai waktu, dan mendidik anak-anak agar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.
