Merajut Asa Lewat Kerja Keras dan Doa

Foto Kisah15 Dilihat

Fokuspers.com — Nur Faizah lahir dan besar di Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara. Perempuan berkulit sawo matang ini dikenal berpenampilan sederhana dengan pembawaan yang tenang dan ramah. Di balik senyumnya yang hangat, tersimpan pribadi yang gigih, mandiri, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Sehari-hari, Nur Faizah menjalankan usaha sebagai pedagang. Baginya, berdagang bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di sela kesibukannya, ia masih meluangkan waktu untuk menjahit, hobi yang telah lama digelutinya dan menjadi ruang untuk menyalurkan ketelatenan serta kreativitas.

banner 336x280

Nur Faizah tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai kerja keras dan kebersamaan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di kampung halamannya, ia melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren. Kehidupan di pesantren membentuk kedisiplinan, kemandirian, serta memperkuat nilai-nilai agama yang kemudian menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.

Ujian besar datang ketika usianya baru memasuki awal 20-an. Kepergian sang ayah membuat kehidupan keluarganya berubah. Sebagai anak pertama dari enam bersaudara, ia harus memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar. Bersama adik pertamanya, Nur Faizah bekerja keras untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memastikan adik-adiknya tetap dapat melanjutkan pendidikan hingga mampu mandiri.

Perjuangan itu membawanya menjalani berbagai pekerjaan. Pada pagi hari, ia pernah bekerja mengamplas kayu di tempat pertukangan, kemudian mengajar anak-anak di TPQ pada sore hari. Ia juga pernah menjadi karyawan toko pakaian di pasar, mengajar les, hingga bekerja sebagai buruh jahit. Hampir setiap pekerjaan yang halal dijalaninya tanpa memandang gengsi. Baginya, bekerja adalah bentuk tanggung jawab terhadap keluarga. Aktivitas tersebut baru berhenti ketika ia mengandung anak pertamanya dan kondisi fisiknya tidak lagi memungkinkan untuk bekerja seberat sebelumnya.

Memasuki kehidupan berumah tangga, Nur Faizah kembali membangun harapan bersama keluarganya. Kini ia menjadi ibu dari empat orang anak yang terus didorong untuk menempuh pendidikan dan memperdalam ilmu agama. Anak pertamanya telah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren dan menjadi hafizah Al-Qur’an. Dua anak berikutnya sedang menjalani proses menghafal Al-Qur’an, sedangkan anak bungsunya baru memulai pendidikan di pondok pesantren. Sementara itu, anak pertama dan anak keduanya juga tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Di saat yang sama, usaha rumahan yang dirintisnya mulai berkembang. Warung jajanan yang dibangun dari usaha kecil-kecilan kini semakin dikenal masyarakat. Produk sambal kacang bermerek “NIKMAT” dan kerupuk nasi yang diproduksinya juga mendapat sambutan baik sehingga turut membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

Meski kesibukannya bertambah, Nur Faizah tetap aktif mengikuti kegiatan keagamaan bersama Muslimat NU. Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang berkembangnya usaha, tetapi juga tentang tetap menjaga hubungan dengan masyarakat serta memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Perjalanan hidup Nur Faizah menunjukkan bahwa keberhasilan lahir dari keberanian menghadapi keadaan, bukan dari kemudahan yang dimiliki seseorang. Kehilangan sosok ayah di usia muda tidak membuatnya berhenti melangkah. Sebaliknya, pengalaman itu menjadi awal perjuangannya untuk membantu membesarkan adik-adik, membangun keluarga, sekaligus mengantarkan anak-anaknya meraih pendidikan yang lebih baik.

Prinsip hidup yang selalu dipegangnya sederhana, yakni terus berusaha, berpikir positif, dan tidak pernah meninggalkan doa. Ia meyakini bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Allah Swt., sedangkan manusia hanya berkewajiban untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana pesan yang selalu ia sampaikan kepada anak-anaknya, “Jangan pernah menyerah, selalu berpikir positif, dan jangan pernah lupa kepada Allah dalam keadaan apa pun, baik saat berada di atas maupun ketika sedang berada di bawah.”