Roslaini Pane: Meniti Hidup dengan Ketekunan

Foto Kisah15 Dilihat

Di balik perawakannya yang mungil dan anggun, Roslaini Pane dikenal sebagai perempuan yang tangguh dan bersahaja. Perempuan kelahiran Arse Jonggol Jae, Medan, ini sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik. Senyumnya yang ramah, dipadukan dengan pembawaan yang sederhana, mencerminkan keteguhan yang lahir dari perjalanan hidup yang panjang. Di luar kesibukan bekerja, Roslaini senang menghabiskan waktu dengan merawat tanaman di kebun rumahnya sebagai cara melepas penat.
Roslaini merupakan anak kesembilan dari sembilan bersaudara. Ia tumbuh di tengah keluarga petani yang hidup sederhana dengan berbagai keterbatasan. Pendidikan ditempuh di SD Negeri 1 Arse, kemudian dilanjutkan ke SMP Negeri Arse. Setelah lulus SMP, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah agama harus terhenti karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Meski demikian, keadaan tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia memilih merantau ke Tangerang hingga Jakarta untuk mencari pekerjaan dan memperbaiki masa depan.
Perantauan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Di sanalah Roslaini bertemu dengan Sutrisno, yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Setelah menikah, keduanya membangun rumah tangga dari titik awal yang penuh keterbatasan. Mereka dikaruniai tiga orang putri, yaitu Faudiah Rahmawati, Saputri Handa Agustiani, dan Nor Laila Safriani. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, pasangan ini menjalani berbagai usaha dengan segala keterbatasan. Saat itu, mereka hanya memiliki satu sepeda motor yang digunakan untuk menunjang seluruh aktivitas sehari-hari.
Bagi Roslaini, perjuangan tidak cukup hanya dengan bekerja keras. Ia meyakini bahwa setiap usaha harus disertai doa dan keikhlasan. Nilai-nilai tersebut menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan. Ia juga membiasakan diri untuk berbuat baik kepada sesama, gemar bersedekah, serta membantu saudara maupun tetangga yang membutuhkan. Baginya, keberhasilan tidak hanya diukur dari apa yang dimiliki, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Kerja keras yang dilakukan bersama suaminya perlahan membuahkan hasil. Roslaini turut mendampingi Sutrisno mengembangkan usaha peternakan sapi hingga mampu menjadi sumber penghidupan utama keluarga. Seiring berkembangnya usaha, kondisi ekonomi mereka pun mengalami perubahan. Rumah yang dahulu sederhana berhasil direnovasi menjadi lebih layak, sementara kebutuhan transportasi keluarga kini didukung oleh beberapa sepeda motor dan satu unit mobil.
Namun, pencapaian terbesar bagi Roslaini bukan semata-mata keberhasilan secara ekonomi. Kebahagiaan yang paling berarti baginya adalah ketika berhasil mengantarkan dua dari tiga putrinya menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia juga dikenal sebagai sosok yang ringan tangan dan tidak segan membantu warga maupun kerabat yang membutuhkan.
Perjalanan hidup Roslaini menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penentu masa depan. Berangkat dari keluarga sederhana, pendidikan yang terhenti, hingga membangun kehidupan dari nol bersama suami, ia membuktikan bahwa ketekunan, doa, dan kerja keras dapat membawa perubahan. Baginya, setiap proses yang dijalani merupakan bagian dari ikhtiar untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.
Prinsip hidup tersebut juga tercermin dalam pesan yang selalu ia sampaikan kepada anak-anaknya, “Sekolah yang rajin agar bisa sukses dan bisa membahagiakan diri Kamu sendiri dan keluarga.”
Pesan sederhana itu menjadi gambaran dari perjalanan hidup Roslaini sendiri. Melalui kerja keras yang tidak pernah berhenti, ia membuktikan bahwa pendidikan, ketekunan, dan keyakinan kepada Tuhan mampu menjadi bekal untuk menghadapi berbagai keterbatasan serta membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Oleh :Nor Laila Safriani