Generasi Z hari ini hidup dalam pusaran teknologi digital yang bekerja tanpa henti, mengatur apa yang mereka lihat, dengar, dan percayai. Bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, layar gawai menjadi ruang utama berinteraksi dengan dunia. Algoritma media sosial perlahan mengambil peran yang jauh lebih besar dari sekadar teknologi penyaring konten; ia membentuk persepsi tentang kebenaran, menentukan siapa yang layak didengar, dan memengaruhi standar nilai yang dijadikan pegangan hidup. Tidak sedikit remaja yang lebih yakin pada rekomendasi algoritma dibanding nasihat orang tua, guru, bahkan ajaran agama.
Dalam realitas ini, pernyataan para pendidik, tokoh agama, dan pemerhati generasi muda tentang melemahnya fondasi spiritual Generasi Z bukan lagi sekadar wacana, melainkan cerminan dari peristiwa yang nyata terjadi di sekitar kita. Fenomena tersebut semakin tampak ketika ukuran keberhasilan hidup direduksi menjadi popularitas digital: seberapa viral sebuah unggahan, seberapa banyak pengikut yang dimiliki, dan seberapa tinggi tingkat interaksi yang diperoleh. Nilai tauhid—yang menempatkan Tuhan sebagai pusat orientasi hidup—perlahan tergeser oleh logika algoritma yang menuhankan angka dan tren. Media sosial, tanpa disadari, menjadi “kiblat” baru dalam menentukan sikap, selera, bahkan moralitas. Rangkuman dari seluruh peristiwa ini menunjukkan sebuah krisis yang lebih dalam dari sekadar kecanduan gawai, yakni krisis tauhid pada Generasi Z. Ketika algoritma lebih dipercaya daripada Tuhan, pendidikan karakter tauhid tidak hanya menghadapi tantangan berat, tetapi juga berada di persimpangan antara relevansi dan ketimpangan di tengah arus digital yang kian dominan.
Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan utama yang dihadapi Generasi Z bukan semata kemampuan beradaptasi dengan teknologi, melainkan krisis orientasi nilai. Di satu sisi, dunia digital menawarkan kecepatan, kemudahan, dan akses informasi tanpa batas; namun di sisi lain, ia menghadirkan tantangan serius bagi pendidikan karakter tauhid yang selama ini menjadi fondasi pembentukan iman dan akhlak. Ketika algoritma bekerja berdasarkan kepentingan atensi dan keuntungan, sementara pendidikan tauhid menuntut kesadaran, ketundukan, dan keikhlasan, benturan nilai menjadi tak terelakkan. Di titik inilah artikel ini hendak menyoroti bagaimana derasnya arus digital telah menggeser peran tauhid dalam kehidupan Generasi Z, sekaligus mengajak orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk meninjau kembali strategi pendidikan karakter agar tetap relevan, kontekstual, dan mampu meneguhkan keimanan di tengah dominasi dunia digital.
Jika ditelaah lebih dalam, krisis tauhid yang dialami Generasi Z tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari pergeseran struktur otoritas nilai di era digital. Dalam teori sosiologi pengetahuan, Peter L. Berger menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Media digital hari ini berperan besar dalam proses tersebut, menciptakan realitas baru yang secara terus-menerus diinternalisasi oleh generasi muda. Ketika algoritma menentukan apa yang tampil dan apa yang tersembunyi, maka ia secara tidak langsung menjadi “penentu makna”. Dalam konteks ini, tauhid yang seharusnya menjadi sumber makna tertinggi justru kalah bersaing dengan arus konten yang lebih menarik secara visual dan emosional.
Dari sisi psikologi perkembangan, Generasi Z berada pada fase pencarian identitas yang sangat rentan terhadap pengaruh eksternal. Erik Erikson menyebut fase ini sebagai identity versus role confusion, di mana individu membutuhkan figur rujukan dan sistem nilai yang kuat. Namun, alih-alih menemukan rujukan pada keluarga, sekolah, atau agama, Generasi Z justru banyak belajar tentang diri mereka dari algoritma media sosial. Fakta ini tercermin dalam meningkatnya kecenderungan membangun identitas berbasis citra digital—bagaimana terlihat di layar, bukan bagaimana nilai diinternalisasi dalam diri. Akibatnya, tauhid kehilangan relevansi praktis karena tidak hadir dalam ruang yang paling sering mereka huni: ruang digital.
Kondisi ini diperparah oleh logika kapitalisme digital yang menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas. Algoritma bekerja bukan untuk membentuk karakter, melainkan untuk mempertahankan keterlibatan pengguna selama mungkin. Dalam situasi seperti ini, konten yang menekankan kesabaran, keikhlasan, dan ketundukan kepada Tuhan kalah bersaing dengan konten yang menjanjikan instanitas, sensasi, dan pengakuan sosial. Contoh nyata dapat dilihat dari maraknya konten motivasi semu yang menempatkan kesuksesan sebagai hasil “usaha diri semata”, tanpa menyisakan ruang bagi konsep tawakal dan ketergantungan kepada Tuhan. Tauhid direduksi menjadi simbol, bukan prinsip hidup.
Pernyataan ini selaras dengan kritik Neil Postman yang menyebut bahwa masyarakat modern berisiko “menghibur diri sampai mati” (amusing ourselves to death). Dalam konteks Generasi Z, hiburan digital yang tak terkendali telah menggeser fungsi refleksi spiritual. Ibadah dan nilai agama tetap hadir, tetapi sering kali terlepas dari makna tauhid yang substansial. Agama berpotensi menjadi sekadar identitas kultural, sementara orientasi hidup sesungguhnya diarahkan oleh tren dan algoritma. Ketika ini terjadi, tauhid kehilangan daya transformatifnya sebagai penggerak akhlak dan pengendali hasrat.
Lebih jauh, krisis tauhid ini juga tercermin dalam respons Generasi Z terhadap persoalan hidup. Ketika menghadapi kegagalan, kecemasan, atau tekanan sosial, rujukan pertama sering kali adalah media sosial, bukan Tuhan. Fenomena ini tampak dari meningkatnya budaya membandingkan diri, rasa tidak cukup, dan ketergantungan pada validasi eksternal. Padahal, dalam pendidikan tauhid, manusia diajarkan untuk menggantungkan harapan hanya kepada Tuhan, sekaligus menyadari keterbatasan diri sebagai makhluk. Ketika prinsip ini tidak tertanam kuat, maka teknologi tidak lagi menjadi alat, melainkan menjadi tuan.
Dengan demikian, krisis tauhid Generasi Z sejatinya merupakan krisis pendidikan karakter yang gagal membaca zaman. Pendidikan tauhid yang masih berhenti pada tataran kognitif—menghafal konsep tanpa menghadirkan makna—tidak akan mampu menandingi kekuatan algoritma yang bekerja secara emosional dan visual. Tanpa upaya serius untuk mengintegrasikan nilai tauhid ke dalam ekosistem digital yang nyata dihadapi Generasi Z, maka krisis ini akan terus berlanjut, bahkan semakin mengakar dalam kehidupan generasi masa depan.
Pada akhirnya, krisis tauhid yang dialami Generasi Z bukanlah persoalan iman yang lahir dari kehampaan, melainkan hasil dari pendidikan karakter yang tertinggal oleh laju teknologi. Ketika algoritma lebih dipercaya daripada Tuhan, yang sesungguhnya terjadi adalah pergeseran pusat orientasi hidup—dari nilai ilahiah menuju validasi digital. Tauhid tidak sepenuhnya hilang, tetapi melemah fungsinya sebagai penuntun sikap dan perilaku. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Generasi Z berisiko tumbuh sebagai generasi yang cakap secara teknologi, namun rapuh secara spiritual dan moral. Karena itu, pendidikan karakter tauhid perlu direkonstruksi secara serius dan kontekstual. Orang tua, pendidik, dan lembaga pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan tauhid sebagai konsep teoretis, melainkan harus menghadirkannya dalam praktik kehidupan digital sehari-hari. Literasi digital berbasis nilai tauhid, keteladanan dalam penggunaan teknologi, serta penguatan ruang-ruang refleksi spiritual menjadi langkah mendesak yang harus diupayakan bersama. Teknologi tidak harus menjadi lawan iman, tetapi tanpa kendali nilai tauhid, ia akan terus menjadi otoritas baru yang menyingkirkan Tuhan dari pusat kehidupan. Di sinilah tanggung jawab kolektif kita diuji: memastikan bahwa Generasi Z tetap menjadikan tauhid sebagai kompas utama, bahkan ketika hidup di tengah dunia yang sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma.
Oleh: Adelia Eka Saputri (Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisnu Jepara)
