Fokuspers.com — Shokib dikenal sebagai sosok yang sederhana dan mudah bergaul. Pria asal Desa Kerso, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara ini memiliki postur tegap dengan kulit sawo matang yang menjadi ciri khasnya. Di balik kesehariannya sebagai perajin kayu, ia juga gemar menggambar dan bermain voli. Bakat serta ketekunannya dalam mengolah kayu kemudian mengantarkannya menjadi perajin bedug yang dikenal di berbagai daerah.
Perjalanan hidup Shokib tidak lepas dari berbagai keterbatasan. Ia merupakan anak keempat dalam keluarga sederhana yang mengalami kesulitan ekonomi. Pendidikan formalnya dimulai di MI Datuk Singaraja, Desa Kerso. Namun, ketika duduk di bangku kelas dua SMP, ia terpaksa berhenti sekolah karena kondisi keuangan keluarga tidak lagi memungkinkan. Sejak saat itu, ia memilih bekerja sebagai buruh tukang kayu untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup.
Memasuki usia dewasa, Shokib menikah dengan Anik Barokah. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang putri, yakni Mir’ Atunnisa’ Ainindia, Fairuz Amalia Chusna, Khofifatur Roihanah, dan Naila Nadiatun Najah. Di tengah kesibukannya mencari nafkah, Shokib tetap dikenal sebagai pribadi yang ramah dan aktif di lingkungan masyarakat. Ia kerap dipercaya memimpin doa tahlil dalam kegiatan RT karena dikenal memiliki kedekatan dengan warga.
Pengalaman bertahun-tahun bekerja sebagai tukang kayu mendorong Shokib untuk membuka usaha mebel sendiri. Namun, usaha yang dirintisnya tidak berjalan sesuai harapan. Persaingan usaha dan keterbatasan modal membuat bisnis tersebut akhirnya berhenti. Kegagalan itu sempat menjadi masa sulit dalam hidupnya, tetapi tidak membuatnya menyerah.
Berbekal pengalaman mengolah kayu dan kemampuan menggambar yang dimilikinya, Shokib memilih mengambil jalan baru. Ia mulai memusatkan usahanya pada pembuatan bedug untuk musala dan masjid. Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya. Selain terus meningkatkan kualitas hasil kerjanya, Shokib juga menjaga hubungan baik dengan banyak orang serta memperkuat ikhtiar melalui doa dan ibadah. Baginya, kerja keras harus selalu berjalan seiring dengan kedekatan kepada Tuhan.
Perlahan, usahanya mulai berkembang. Pesanan bedug datang dari berbagai musala dan masjid, sehingga usahanya semakin dikenal. Hasil kerja keras itu membawa perubahan pada kehidupan keluarganya. Ia berhasil merenovasi rumah, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta mewujudkan cita-cita yang sejak lama menjadi harapannya, yaitu menyekolahkan seluruh anak hingga ke perguruan tinggi sekaligus membiayai pendidikan mereka di pesantren sampai selesai.
Bagi Shokib, keberhasilan terbesar bukanlah berkembangnya usaha, melainkan melihat anak-anaknya memperoleh pendidikan yang lebih baik daripada dirinya. Pengalaman harus berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi menjadi pelajaran berharga yang mendorongnya untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak dalam menempuh pendidikan.
Perjalanan hidup Shokib menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Dari seorang buruh tukang kayu, mengalami kegagalan saat merintis usaha mebel, hingga akhirnya dikenal sebagai perajin bedug, setiap proses dijalaninya dengan ketekunan, kesabaran, dan semangat untuk terus bangkit.
Prinsip hidup tersebut juga tercermin dalam pesan yang selalu ia sampaikan kepada keempat putrinya, “Jika kamu ingin sekolah, kuliah, atau mondok, maka laksanakanlah sampai tuntas. Dan jangan lupa dengan ibadah salat lima waktu.”
Bagi Shokib, pendidikan dan ibadah merupakan dua bekal yang tidak dapat dipisahkan. Melalui perjalanan hidupnya, ia menunjukkan bahwa kerja keras, keteguhan hati, dan kedekatan kepada Tuhan dapat menjadi jalan untuk mengubah keterbatasan menjadi harapan bagi masa depan keluarga.
Oleh :Fairuz Amalia Chusna
Shokib: Meniti Hidup dari Serpihan Kayu










