Liburan panjang baru saja usai, tapi kenapa ya, rasanya justru lebih capek? Kita sibuk healing demi kesehatan mental, tapi sering kali tanpa sadar membiarkan rutinitas ibadah ikut “libur” di tengah euforia destinasi wisata. Fenomena ini bukan hal sepele; menurut laporan Pew Research Center, generasi muda masa kini menghadapi tantangan besar dalam menjaga konsistensi religius akibat paparan gaya hidup digital yang serba instan. Secara ilmiah, kita sedang terjebak dalam hedonic adaptation di mana otak terus mengejar dopamin dari kesenangan liburan, sehingga aktivitas spiritual seperti sajadah dan tilawah terasa membosankan. Studi dalam Journal of Happiness Studies menegaskan bahwa kebahagiaan dari liburan hanya bertahan sesaat, sementara ketenangan batin yang stabil hanya lahir dari koneksi spiritual yang kuat. Jika self-care versimu justru menjauhkanmu dari Tuhan, mungkin itu bukan healing, tapi pelarian. Saatnya berhenti jadi “Part-Time Muslim” dan mulai menyalakan kembali mesin iman yang sempat lowbat pasca liburan.
Namun, menyadari bahwa kita sedang terjebak dalam fase “lowbat” spiritual hanyalah langkah awal; tantangan sesungguhnya adalah bagaimana cara kita melakukan recharge iman tanpa harus merasa terbebani secara mental. Jika tidak segera diintervensi, jeda ibadah yang kita anggap “libur sejenak” ini berisiko menjadi kebiasaan permanen yang mengikis esensi hijrah harian kita. Kita membutuhkan strategi yang lebih dari sekadar niat, yakni langkah-langkah taktis yang selaras dengan gaya hidup dinamis anak muda agar ketaatan tidak lagi terasa seperti beban, melainkan kebutuhan. Untuk memastikan perjalanan healing-mu tetap berada di jalur yang berkah, berikut adalah beberapa tips praktis yang bisa kamu terapkan agar tidak lagi terjebak dalam pola “Part-Time Muslim” dan tetap konsisten menjaga iman meski liburan telah usai.
Dalam psikologi, ada istilah “Moral Licensing”. Ini adalah fenomena di mana seseorang merasa telah melakukan sesuatu yang “baik” atau “berat” (seperti bekerja keras setahun penuh), sehingga mereka merasa berhak untuk “libur” dari standar moral atau spiritual mereka. Kita merasa boleh meninggalkan salat tepat waktu atau tilawah karena sedang dalam mode “istirahat”. Sebaliknya, tokoh besar seperti Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa hati manusia itu seperti cermin. Jika dibiarkan tanpa asuhan (ibadah) saat bersenang-senang, debu kelalaian akan menempel dan membuatnya buram.
“Kesenangan duniawi adalah obat yang jika dosisnya berlebih, justru akan menjadi racun bagi kalbu.” –Imam Al-Ghazali
Banyak yang mengira liburan adalah kunci utama kesehatan mental. Namun, Dr. Bill Hettler, pendiri National Wellness Institute, menekankan bahwa kesejahteraan (wellness) memiliki dimensi Spiritual yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa dimensi ini, seseorang akan mengalami “kekosongan eksistensial”.
Habib Jafar Husein Al-Hadar sering menekankan dalam berbagai kontennya:
“Ibadah itu bukan beban yang menambah lelah, tapi istirahat dari lelahnya dunia.” Jika kita menganggap ibadah sebagai beban pasca liburan, berarti ada yang salah dengan cara kita memandang Tuhan.
Menjaga iman agar tetap menyala pasca liburan memerlukan strategi yang taktis namun tetap ringan dilakukan. Langkah pertama yang bisa kamu terapkan adalah metode Micro-Habit melalui prinsip “Jangan Putus Rantai”. Jika sebelumnya kamu rutin tilawah satu juz setiap hari namun merasa berat untuk memulainya kembali, jangan memaksakan diri secara instan. Cobalah mulai dengan dosis kecil, seperti membaca satu halaman atau bahkan tiga ayat saja setiap selesai salat; karena dalam psikologi pembentukan karakter, menjaga kontinuitas (consistency) jauh lebih krusial daripada intensitas yang meledak-ledak di awal namun cepat padam. Selain itu, penting untuk menata kembali Spiritual Environment di genggamanmu melalui detoks digital. Mengingat lingkungan digital memengaruhi hingga 80% keputusan spontan kita, mulailah dengan mem-follow kembali akun-akun dakwah yang menyejukkan atau mengaktifkan kembali notifikasi aplikasi azan guna menyeimbangkan algoritma media sosial yang biasanya masih dipenuhi konten wisata.
Terakhir, ubahlah cara pandangmu mengenai liburan itu sendiri menjadi Healing yang Berkualitas atau sebuah “Barakah Trip”. Di masa depan, jangan lagi memisahkan antara “waktu main” dan “waktu Tuhan”. Kamu bisa tetap tampil estetik di media sosial sambil menjadikan momen melihat matahari terbenam sebagai sarana tadabbur alam; ganti sekadar pose foto dengan bisikan zikir Subhanallah. Dengan menyatukan hobi dan ibadah secara organik seperti ini, kamu tidak akan lagi merasa bahwa beragama adalah beban yang mengganggu waktu senangmu, melainkan sebuah gaya hidup yang melengkapi kebahagiaanmu seutuhnya.
Pada akhirnya, hijrah bukanlah sebuah destinasi sekali jalan, melainkan maraton panjang yang menuntut kita untuk terus melangkah meski dalam ritme yang pelan. Liburan dan healing seharusnya menjadi momen untuk mensyukuri kebesaran Sang Pencipta, bukan justru menjadi alasan untuk “cuti” dari ketaatan kepada-Nya. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa ketenangan batin yang sejati tidak ditemukan pada seberapa jauh kita melakukan perjalanan fisik, melainkan pada seberapa dekat jarak antara kening kita dan sajadah. Oleh karena itu, jangan biarkan euforia liburan membuatmu kehilangan ritme spiritual; mulailah kembali dari langkah-langkah kecil yang konsisten dan bangunlah ekosistem hidup yang mendukung pertumbuhan imanmu setiap hari.
Besar harapannya, kita tidak lagi terjebak dalam pola “Muslim musiman” yang hanya taat saat merasa butuh, namun menjadi pribadi yang tetap terkoneksi dengan Tuhan dalam kondisi apa pun baik saat sibuk bekerja maupun sedang asyik bertamasya. Semoga setiap perjalanan yang kita tempuh bukan sekadar menyisakan galeri foto yang estetik, tetapi juga menambah beratnya timbangan amal dan kedalaman makna hidup. Mari jadikan spirit hijrah ini sebagai bahan bakar harian untuk terus bertumbuh, karena sesungguhnya self-care terbaik adalah dengan menjaga hati agar tetap terpaut pada rida-Nya.
