Sugiyem, Perempuan Desa yang Tak Pernah Menyerah

Foto Kisah12 Dilihat

Fokuspers.Com — Sugiyem tampil dengan postur mungil dan rambut lurus yang menambah kesan tegas pada sosoknya. Wajahnya sederhana, namun memancarkan keteguhan seorang perempuan desa yang telah banyak ditempa oleh pengalaman hidup. Ia dikenal sebagai pribadi yang berani dan lugas dalam menyampaikan pendapat, terutama ketika dihadapkan pada hal-hal yang bertentangan dengan prinsip yang diyakininya. Di balik ketegasan tersebut, tersimpan sosok yang optimis, penuh semangat, dan menjalani hidup dengan kesederhanaan yang telah melekat dalam kesehariannya.
Perempuan kelahiran Desa Tugu, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar ini sehari-hari bekerja sebagai buruh kebun. Pekerjaan tersebut telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, dan terbiasa bekerja keras. Kedekatannya dengan lingkungan alam serta kehidupan masyarakat desa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya. Di tengah kesibukan bekerja, Sugiyem juga memiliki kegemaran traveling. Baginya, mengunjungi tempat-tempat baru menjadi cara untuk menambah pengalaman sekaligus melepas penat dari rutinitas sehari-hari.
Perjalanan pendidikan Sugiyem hanya sampai di bangku sekolah dasar. Ia menempuh pendidikan di SDN 3 Tugu sebelum akhirnya harus berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana yang serba berkekurangan. Kondisi tersebut membuatnya terbiasa mandiri sejak usia muda dan mendorongnya untuk turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Dalam kehidupan rumah tangga, Sugiyem hidup bersama suaminya, Guntoro Bayu Aji, serta dua orang anak, Umar Sadida dan Sekar Arum. Sebagai seorang ibu, ia menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab dan kesabaran. Berbagai tantangan pernah dihadapinya, termasuk kesalahpahaman dengan sang suami terkait persoalan keuangan keluarga. Namun, persoalan tersebut dapat dilalui melalui komunikasi dan upaya saling memahami sehingga keharmonisan keluarga tetap terjaga.
Tidak hanya aktif dalam keluarga, Sugiyem juga dikenal aktif di lingkungan masyarakat. Ia pernah tergabung dalam Karang Taruna Dukuh Pojok, Desa Tugu, dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari kerja bakti hingga membantu pelaksanaan acara warga. Saat sempat menetap di Desa Dermolo, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Sugiyem juga aktif sebagai anggota Muslimat NU selama kurang lebih empat tahun. Keterlibatannya dalam berbagai organisasi membuatnya semakin dekat dengan masyarakat sekaligus mengasah kemampuan bersosialisasi.
Perjalanan hidup Sugiyem tentu tidak selalu berjalan mulus. Selain harus menerima kenyataan bahwa pendidikannya terhenti di tingkat sekolah dasar, ia juga menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja. Saat bekerja di perkebunan, Sugiyem dikenal memiliki kemampuan belajar yang cepat. Berkat ketekunan dan kedisiplinannya, ia berhasil naik dari pekerja harian menjadi pekerja skill. Pencapaian tersebut sempat menimbulkan rasa kurang senang dari beberapa rekan kerja. Meski demikian, Sugiyem memilih untuk tetap fokus bekerja dan membuktikan kemampuannya melalui hasil kerja yang nyata.
Bagi Sugiyem, kesuksesan tidak diraih dengan cara yang rumit. Ia percaya bahwa seseorang harus terus belajar agar dapat memberi manfaat bagi orang lain, menjaga semangat bekerja, menghormati orang tua, serta tidak melupakan ibadah dan sedekah. Selain itu, ia juga meyakini pentingnya membangun relasi dan menjaga hubungan baik dengan sesama. Setiap usaha, menurutnya, harus selalu disertai doa.
Prinsip-prinsip tersebut terbukti membawanya pada berbagai pencapaian penting dalam hidup. Salah satu kebanggaan terbesar yang berhasil diraih adalah ketika mampu menguliahkan anak pertamanya, Umar Sadida. Di sisi lain, kenaikan jabatan dari pekerja harian menjadi pekerja skill turut membawa perubahan besar bagi kondisi ekonomi keluarganya karena penghasilan dan tunjangan yang diterima meningkat.
Perjalanan hidup Sugiyem menjadi gambaran tentang keteguhan seorang perempuan desa dalam menghadapi berbagai keterbatasan. Berangkat dari keluarga sederhana, pendidikan yang terhenti di bangku sekolah dasar, hingga berbagai tantangan dalam rumah tangga dan pekerjaan, ia tetap mampu menjalani hidup dengan semangat dan kerja keras. Sikap sederhana, ketegasan dalam bersikap, serta kemauannya untuk terus belajar membuatnya mampu bertahan dan berkembang di tengah berbagai ujian kehidupan.
Bagi Sugiyem, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh hubungan baik dengan sesama dan kedekatan kepada Tuhan. Prinsip hidup itu tercermin dalam pesan yang selalu dipegangnya, “Jadi orang jangan suka menyendiri, perbanyak teman, perluas relasi biar sukses. Makin banyak kenal orang, makin besar peluang sukses. Sholat juga jangan ditinggalkan.”
Melalui perjalanan hidupnya, Sugiyem membuktikan bahwa kesederhanaan, ketekunan, dan doa dapat menjadi bekal untuk menghadapi berbagai keterbatasan serta membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Oleh :Umar sadida