Es Campur Mak Iseh, Penawar Rindu Di Tengah Deru Zaman

Berita65 Dilihat

Bugel, Fokuspers.com — Di tengah menjamurnya gerai kopi kekinian dan riuh tren kuliner viral, waktu seolah berjalan lebih pelan saat memasuki kediaman Mak Iseh. Rumah yang sekaligus menjadi warung itu masih menyimpan aroma manis santan dan segarnya serutan es dari es campur buatannya dengan rasa yang bertahan di tengah gempuran minuman modern yang kini lebih digandrungi anak muda.

Mak Iseh (67) bercerita, warung yang ditempatinya sekarang sudah berdiri hampir setengah abad. Selain es campur yang dikenal warga, ia juga menjual aneka gorengan seperti tempe, tahu, bakwan, ketela, hingga tape yang menjadi menu sederhana yang tetap dicari pembeli.

“Sejujurnya saya tidak cari untung, tidak apa-apa. Saya cuma senang begini. Nanti kalau ada sisa bisa saya kasih jajan ke cucu, begitu saja. Saya tidak punya apa-apa. Yang penting saya bisa makan sudah senang sekali. Bisa belanja lagi tanpa berutang, saya sudah senang,” ungkap Mak Iseh saat ditemui di Bugel, Jumat (24/4/2026).

Harga yang ditawarkan pun terbilang ramah di kantong. Gorengan seperti tempe, tahu, dan bakwan dijual Rp2.000 untuk tiga potong, sementara pisang goreng dihargai Rp1.500 per buah. Adapun es campur autentik berisi cincau, cendol, dan potongan roti dijual Rp2.500 per porsi.

Soal rasa, Mak Iseh tetap setia pada resep lama. Ia mengaku tidak banyak mengubah racikan sejak dulu.

“Resepnya ya cuma begini, Nduk. Kalau merebus gula itu, misalnya dua kilo, dicampur gula mahkota seperempat. Kalau ditambah sari manis ya sedikit saja, tidak boleh kebanyakan,” ujarnya.

Di mata pelanggan, cita rasa itulah yang membuat es campur Mak Iseh tetap bertahan. Amalia, salah satu pembeli, menyebut minuman itu sudah cukup dikenal di kalangan warga sekitar.

“Tapi memang, Mak, dibandingkan es campur mana-mana, paling enak memang di sini. Makanya kakek saya kadang suka beli di sini,” kata Amalia.

Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, warung kecil milik Mak Iseh seperti menjadi ruang singgah dan tempat orang-orang menemukan kembali rasa yang sederhana, sekaligus kenangan yang tak lekang.