“Nguerep-ngerep Agamo”: Warisan Cahaya Ibu Juwariyah dari Pesisir Ujungwatu

Religi210 Dilihat

Jepara, Fokuspers.com – Di sebuah masa ketika lampu minyak masih menjadi satu-satunya kawan dalam kegelapan malam, seorang perempuan di Desa Ujungwatu mulai menyalakan “pelita” yang jauh lebih terang: ilmu dan organisasi. Beliau adalah Ibu Juwariyah (1943–2018), seorang pedagang sembako yang namanya kini abadi sebagai pionir Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di desanya.

Bagi masyarakat Ujungwatu, sosok Juwariyah adalah bukti nyata bahwa keterbatasan pendidikan formal—beliau hanya lulusan Sekolah Rakyat—bukanlah penghalang untuk menguasai cakrawala pemikiran Islam. Di balik kesederhanaannya, ia mahir membedah Kitab Kuning dengan teknik makna gandul, sebuah kemampuan literasi klasik pesantren yang ia kuasai dengan sangat baik.

Lahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara, Juwariyah tumbuh menjadi pribadi yang mandiri secara ekonomi. Namun, toko sembako miliknya bukan sekadar tempat mencari laba. Bagi istri dari Bapak Sarmidi ini, keuntungan dagang adalah alat perjuangan.

Ia dikenal sebagai sosok yang tidak pernah “eman” (merasa rugi) dalam mengeluarkan harta pribadi demi organisasi. Prinsipnya tegas: apa pun yang ia miliki hanyalah titipan untuk menghidupkan agama, atau yang sering ia sebut dengan istilah khasnya, “nguerep-ngerep agamo”. Berkat kedermawanannya, kegiatan Muslimat NU di Ujungwatu yang ia rintis bisa berjalan mandiri, bahkan hingga mampu membangun gedung organisasi dan Taman Kanak-Kanak (TK).

Salah satu warisan paling ikonik dari Ibu Juwariyah adalah sebuah tempat mengaji sederhana yang ia rintis di tengah keterbatasan fasilitas. Tempat mengaji yang dulu hanya diterangi temaram lampu minyak itu, kini masih berdiri kokoh dan dikelola oleh putra bungsunya—sebuah estafet perjuangan yang membuktikan keberhasilan pendidikan agama dalam keluarganya sendiri.

Tak hanya fokus pada anak-anak, Juwariyah juga menjadi magnet bagi para ibu di desanya. Ia adalah sosok yang paling depan hadir memberikan penguatan spiritual saat ada warga yang berduka. Bahkan, dengan dana pribadinya, ia secara rutin menghadirkan para kiai ke Ujungwatu setiap Jumat Kliwon untuk memberikan siraman rohani bagi masyarakat luas.

Hingga akhir hayatnya pada tahun 2018, Ibu Juwariyah tetap memegang teguh prinsip hidup tanpa pamrih. Baginya, kesalehan tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus “dihidupkan” dalam wujud nyata—mulai dari membangun sarana pendidikan hingga menjaga silaturahmi antarwarga.

Jejak langkahnya di Desa Ujungwatu kini menjadi cermin bagi generasi muda. Bahwa untuk menjadi pahlawan di masyarakat, seseorang tidak perlu jabatan mentereng; cukup dengan ketulusan hati, ketekunan dalam berdagang, dan keberanian untuk berbagi. Ibu Juwariyah telah tiada, namun “cahaya” yang ia nyalakan lewat pengabdiannya di Muslimat NU akan terus bersinar di setiap sudut Desa Ujungwatu.