Bukan Sekedar Viral, Saatnya Menata Citra Diri Di Awal Tahun

Opini36 Dilihat

 

Memasuki awal tahun 2026, dunia digital semakin nyata mendominasi cara kita berinteraksi, lebih dari 5,66 miliar identitas pengguna aktif media sosial tercatat di seluruh dunia pada Oktober 2025, atau sekitar 68,7% populasi global. DataReportal – Global Digital Insights Di Indonesia pun, fenomena ini terasa: sejak Januari 2025 tercatat sekitar 126 juta pengguna dewasa media sosial, mewakili 62,7% dari total populasi dewasa.

banner 336x280

Di tengah derasnya arus informasi tersebut, tantangan terbesar bukan lagi sekadar hadir di media sosial, tetapi bagaimana membangun citra yang autentik, konsisten, dan dapat dipercaya oleh publik. Perubahan perilaku pengguna yang semakin kritis membuat setiap pesan, visual, hingga interaksi kecil sekalipun memiliki dampak langsung terhadap persepsi yang terbentuk. Karena itu, awal tahun menjadi momentum penting untuk menata ulang arah komunikasi, merumuskan strategi yang lebih terukur, dan memastikan bahwa setiap langkah digital benar-benar mencerminkan nilai serta identitas yang ingin kami bangun.

Berangkat dari realitas tersebut, pendekatan komunikasi digital tidak lagi bisa bersifat sporadis atau reaktif. Strategi yang efektif menuntut pemahaman mendalam terhadap audiens: apa yang mereka butuhkan, bagaimana mereka berinteraksi, serta nilai apa yang mereka harapkan dari sebuah brand atau institusi. Audiens hari ini tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga menilai, membandingkan, bahkan menguji konsistensi antara pesan yang disampaikan dengan tindakan nyata yang ditunjukkan.

Keautentikan menjadi mata uang paling berharga. Publik semakin peka terhadap narasi yang terasa artifisial atau sekadar mengikuti tren tanpa landasan nilai yang jelas. Oleh karena itu, komunikasi digital perlu dibangun dari fondasi yang kuat: visi, misi, dan karakter yang diterjemahkan secara jujur ke dalam konten, gaya bahasa, hingga cara merespons percakapan. Konsistensi bukan berarti monoton, melainkan keselarasan pesan di berbagai kanal, sehingga identitas yang ditampilkan tetap utuh meski format dan platformnya berbeda.

Di sisi lain, kepercayaan publik tidak lahir secara instan. Ia dibangun melalui interaksi yang berkelanjutan, transparan, dan relevan. Setiap unggahan, komentar, atau respons terhadap isu menjadi bagian dari rekam jejak digital yang mudah dilacak dan diingat. Kesalahan kecil yang tidak ditangani dengan bijak dapat berkembang menjadi krisis reputasi, sementara komunikasi yang empatik dan bertanggung jawab justru mampu memperkuat hubungan dengan audiens.

Memasuki awal tahun, momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk melakukan refleksi menyeluruh: meninjau kembali strategi konten, mengevaluasi efektivitas pesan, serta menyelaraskan tujuan komunikasi dengan dinamika audiens yang terus berubah. Dengan pendekatan yang lebih terukur dan berorientasi pada nilai, media sosial tidak hanya menjadi ruang eksistensi, tetapi juga sarana strategis untuk membangun kepercayaan, relevansi, dan hubungan jangka panjang di tengah lanskap digital yang semakin kompleks.

Lebih jauh, dominasi media sosial juga mengaburkan batas antara komunikasi personal, institusional, dan komersial. Satu unggahan dapat dibaca sebagai pernyataan sikap, strategi pemasaran, sekaligus representasi nilai. Dalam situasi ini, kesalahan membaca konteks audiens atau sensitivitas isu bukan lagi risiko kecil, melainkan potensi gangguan serius terhadap kredibilitas. Publik menuntut kejelasan posisi: apa yang diperjuangkan, apa yang ditolak, dan sejauh mana sebuah entitas bertanggung jawab atas dampak komunikasinya.

Algoritma platform memang menentukan jangkauan, tetapi kepercayaan tidak dibangun oleh algoritma. Ia dibentuk oleh konsistensi sikap dan kualitas relasi. Konten yang viral sesaat tanpa relevansi nilai justru berisiko mengaburkan identitas jangka panjang. Sebaliknya, komunikasi yang mungkin tidak selalu ramai, tetapi berakar pada prinsip yang jelas, cenderung membangun loyalitas audiens yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Selain itu, tekanan untuk selalu responsif sering kali mendorong institusi atau brand bereaksi terlalu cepat terhadap isu yang berkembang. Kecepatan memang penting, tetapi ketepatan jauh lebih krusial. Respons yang tergesa-gesa tanpa landasan data, empati, dan pertimbangan etis justru dapat memperburuk situasi. Dalam konteks ini, diam sejenak untuk memahami persoalan sering kali lebih bijak daripada berbicara tanpa arah yang jelas.

Perubahan lanskap digital juga menuntut pergeseran peran pengelola komunikasi. Mereka tidak lagi sekadar produsen konten, melainkan penjaga nilai dan penjembatan dialog. Kemampuan membaca emosi publik, memahami dinamika sosial, serta mengelola percakapan dua arah menjadi kompetensi kunci. Media sosial bukan lagi panggung monolog, melainkan ruang diskusi yang menuntut kesiapan untuk mendengar, mengakui kekurangan, dan belajar dari umpan balik.

Pada akhirnya, kekuatan komunikasi digital terletak pada keberaniannya untuk jujur dan bertanggung jawab. Publik tidak menuntut kesempurnaan, tetapi konsistensi dan itikad baik. Mereka lebih mudah memaafkan kesalahan yang diakui daripada narasi yang dipoles berlebihan. Di sinilah integritas menjadi pembeda utama antara komunikasi yang sekadar hadir dan komunikasi yang benar-benar bermakna.

(Oleh  :Nadhif Sadid Lubab, Mahasiswa prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Unisnu Jepara)