Lawan Schooling Without Learning, Menteri Mu’ti Usung Deep Learning

Jepara, Fokuspres.com – Dunia pendidikan Indonesia tengah bersiap melakukan lompatan besar. Dalam Seminar Nasional bertajuk “Pembelajaran Mendalam Menuju Generasi Berkualitas di Era 5.0” yang digelar di Auditorium Perpustakaan UNISNU Jepara, Rabu (4/3/26), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. K.H. Abdul Mu’ti, M.Ed., memaparkan visi baru pemerintah untuk mengatasi fenomena schooling without learning.

Menteri Abdul Mu’ti menekankan bahwa pilar pendidikan masa depan akan bersandar pada tiga prinsip utama Deep Learning. Pendekatan ini dimulai dengan upaya memuliakan peserta didik melalui penghargaan terhadap keunikan potensi individu, yang kemudian diperkuat dengan keterlibatan aktif (engagement) guna menciptakan interaksi bermakna antara guru dan siswa di ruang kelas. Sebagai pelengkap, siswa didorong untuk memiliki kemampuan penilaian mandiri (self-assessment) guna mengasah keterampilan berpikir kritis dan kesadaran metakognitif yang tajam sejak dini.

banner 336x280

Visi besar ini disambut hangat oleh Rektor UNISNU Jepara, Prof. Dr. K.H. Abdul Jamil, MA, yang melihat kehadiran Menteri sebagai simbol kemajuan pendidikan Islam yang inklusif. Ia menyoroti sisi unik kolaborasi lintas latar belakang antara Menteri yang berbasis Muhammadiyah dengan institusi UNISNU yang berakar pada Nahdlatul Ulama sebagai potret harmoni yang progresif. Semangat kolaborasi ini pun mendapat dukungan nyata dari Pemerintah Kabupaten Jepara. Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar, SM, memaparkan komitmen daerah melalui investasi pendidikan yang masif, mulai dari insentif sebesar Rp19,5 miliar bagi 10.000 guru non-ASN, program Kartu Sarjana senilai Rp7,7 miliar, hingga revitalisasi infrastruktur pada 98 sekolah di wilayah Jepara.

 

Di sisi lain, pemerintah menyadari tantangan berat di era digital, terutama gangguan konsentrasi siswa akibat arus media sosial dan Artificial Intelligence (AI). Menanggapi hal tersebut, peran guru ditegaskan kembali sebagai sosok krusial yang tak mungkin digantikan oleh teknologi manapun. Sebagai bentuk dukungan, pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas pendidik melalui Beasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) serta penyederhanaan birokrasi pengangkatan kepala sekolah. Selain fokus pada kesejahteraan, posisi pendidikan agama juga ditegaskan sebagai mata pelajaran wajib demi menjaga karakter di tengah laju digitalisasi.

Seminar ini mengirimkan pesan kuat bahwa di era Society 5.0, pendidikan bukan lagi soal seberapa banyak materi yang dihafal, melainkan seberapa dalam seorang siswa memahami ilmunya dalam kehidupan nyata. Kolaborasi lintas organisasi seperti NU dan Muhammadiyah, didukung oleh kebijakan pro-guru, menjadi kunci utama mewujudkan generasi emas Indonesia