Miftahul Amin: Jalan Sunyi Khidmah dan Menjaga Marwah NU di Somosari

Penulis: Firza Izzatul Mila, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, (Mahasiswa KKN Sumosari 2 UNISNU Jepara)

Kampus, Opini31 Dilihat

Jepara, Fokuspres.com – Di lereng perbukitan Desa Somosari, Kecamatan Batealit, sosok Miftahul Amin menjadi simbol dedikasi tanpa pamrih. Lahir pada 31 Oktober 1989, pria asal Dukuh Kedawung ini telah mewakafkan dirinya untuk menghidupkan nilai-nilai Nahdlatul Ulama (NU) di tanah kelahirannya melalui prinsip sederhana: ngurip-nguripi (menghidupkan) agama Islam.

Perjalanan spiritual Amin berakar kuat dari dunia pesantren. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar pada 2002, ia menghabiskan 17 tahun hidupnya di Pondok Pesantren Al-Mabar Geneng sebelum akhirnya kembali ke masyarakat pada tahun 2021. Baginya, mengenal NU bukanlah melalui struktur formal, melainkan lewat keteladanan para kiai.

banner 336x280

“Nderek kiai,” tuturnya singkat. Bagi Amin, NU adalah jalan nilai dan adab, bukan sekadar identitas kelembagaan. Hal inilah yang mendorongnya bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor Somosari pada tahun 2022 sebagai bentuk pengabdian nyata.

Sebagai Ketua Rijalul Ansor, Amin mengemban berbagai amanah, mulai dari memimpin pengajian kitab kuning hingga kegiatan manaqiban rutin. Namun, ujian terberat sekaligus momen paling berkesan baginya adalah saat masa Pemilu dan Pilkada.

Demi menjaga marwah organisasi agar tidak terkontaminasi kepentingan politik praktis, ia memilih untuk menonaktifkan sementara seluruh kegiatan Ansor. Baginya, NU harus tetap menjadi rumah bersama yang meneduhkan dan netral dari kepentingan sesaat.

Di tengah dinamika keberagaman organisasi di desa, Amin mengedepankan kebijaksanaan. Ia memandang perbedaan sistem dakwah bukan sebagai pemicu konflik, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Namun, ia tak menampik bahwa tantangan terbesar saat ini adalah regenerasi. Mengingat letak geografis Somosari yang menyebar, mencari kader bukanlah perkara mudah. Ia menekankan bahwa dalam berorganisasi di desa, diperlukan kelapangan hati.

“Jika berbuat salah, jangan dimarahi, tetapi diarahkan,” pesannya kepada para senior dan tokoh masyarakat.

Bagi Miftahul Amin, berkhidmah di NU adalah ruang pembelajaran batin. Ia memahami bahwa berdakwah di masyarakat berbeda dengan di pesantren. Jika di pesantren cukup patuh pada dawuh kiai, maka di masyarakat diperlukan kemampuan menyesuaikan diri dan membangun komunikasi yang harmonis.

Ia menutup prinsip pengabdiannya dengan satu keyakinan: bahwa menghidupkan agama bukan soal banyak bicara atau tampil di depan, melainkan tentang memberi contoh dan menjadi sosok yang dibutuhkan masyarakat. Bagi Amin, NU adalah jalan sunyi tempat agama akan terus hidup selama masih ada keikhlasan dan kesabaran di dalamnya.