Posturnya tinggi dan kurus dengan kulit sawo matang yang khas. Pembawaannya tenang dan berwibawa, tetapi di balik kesan tegas itu, Sulthon dikenal sebagai pribadi yang humoris dan penyayang. Pengusaha mebel UMKM asal Jepara yang lahir pada 13 Agustus 1977 ini juga gemar berkebun. Baginya, berkebun menjadi cara sederhana untuk melepas penat setelah disibukkan dengan aktivitas mengelola usaha mebel.
Kesuksesan yang diraih Sulthon hari ini berawal dari perjalanan hidup yang penuh keterbatasan. Ia lahir sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara dalam keluarga yang hidup serba sederhana. Sejak usia sekolah, ia telah terbiasa bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Berbagai kesulitan yang dihadapi sejak kecil justru membentuknya menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan pantang menyerah.
Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, Sulthon tidak pernah meninggalkan pendidikan. Ia menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI), melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), kemudian menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah (MA). Untuk tetap bersekolah, ia bekerja sambil belajar. Sebagian besar biaya pendidikan dipenuhi dari hasil jerih payahnya sendiri, meskipun saat masih duduk di bangku MI sesekali mendapat bantuan dari kakak-kakaknya. Baginya, pendidikan merupakan bekal penting untuk mengubah masa depan.
Perjuangan mencari nafkah sudah dimulai sejak usia belia. Saat masih kecil, Sulthon berjualan es. Memasuki bangku SMP, ia merantau ke Surabaya dan membantu ayahnya yang saat itu tengah sakit dengan berjualan es dawet. Pengalaman tersebut mengajarkannya arti tanggung jawab, kerja keras, dan kemandirian sejak dini.
Ketika menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah, Sulthon mulai bekerja sebagai tukang ukir. Dari pekerjaan itulah ia mengenal lebih dekat dunia kerajinan kayu yang kemudian menjadi jalan hidupnya. Ia tidak sekadar bekerja, tetapi juga terus belajar mengembangkan kemampuan. Ketekunan tersebut membawanya memahami industri mebel lebih dalam hingga akhirnya mampu membangun usaha sendiri dan menjalin kerja sama dengan berbagai mitra, termasuk dari luar negeri.
Di balik perjalanan itu, Sulthon pernah mengalami pengalaman yang tidak mudah. Saat bekerja sebagai tukang ukir, ia kerap membawa kamus ke tempat kerja untuk dipelajari. Kebiasaan tersebut justru sering menjadi bahan ejekan rekan-rekannya yang menganggapnya membuang waktu. Namun, Sulthon tetap yakin bahwa kemampuan berbahasa dan kemauan untuk terus belajar akan membuka peluang yang lebih besar. Keyakinan itu terbukti ketika kemampuan yang diasahnya menjadi jembatan untuk menjalin komunikasi dengan mitra asing dan mengembangkan usahanya.
Seiring berkembangnya usaha, Sulthon tidak hanya dikenal sebagai pengusaha mebel UMKM, tetapi juga aktif dalam berbagai organisasi dan asosiasi pengusaha serta pengrajin kayu di Jepara maupun Jawa Tengah. Ia turut menjadi pengurus CIFOR dan aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Melalui keterlibatannya di berbagai organisasi, Sulthon berupaya ikut mendorong perkembangan industri mebel dan kerajinan kayu di Jepara.
Di tengah kesibukannya, keluarga tetap menjadi tempat ia berpulang. Bersama sang istri, Hidayatun Nafi’ah, Sulthon membangun keluarga yang harmonis dan dikaruniai tiga orang anak. Bagi Sulthon, keluarga adalah sumber semangat yang mendorongnya untuk terus bekerja, belajar, dan berkembang.
Perjalanan hidup Sulthon membuktikan bahwa kesuksesan tidak lahir secara instan. Dari seorang anak yang harus bekerja sejak usia sekolah, berjualan es, menjadi tukang ukir, hingga akhirnya membangun usaha mebel yang berkembang, setiap langkah dilalui dengan kerja keras dan ketekunan. Baginya, keberhasilan bukan semata-mata diukur dari pencapaian ekonomi, tetapi juga dari kemampuan untuk terus belajar, memberi manfaat bagi orang lain, dan membuka peluang bagi masyarakat di sekitarnya.
Kisah hidup Sulthon menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Dengan menjadikan pendidikan sebagai bekal, keluarga sebagai sumber semangat, dan kerja keras sebagai prinsip hidup, ia mampu mengubah berbagai kesulitan menjadi kesempatan. Hingga kini, Sulthon terus mengembangkan usahanya, berbagi pengalaman, serta berkontribusi bagi kemajuan industri mebel Jepara. Perjalanannya menjadi bukti bahwa ketekunan dan kemauan untuk terus belajar mampu membawa seseorang melampaui batas-batas yang pernah dianggap mustahil.
Meniti Mimpi dari Bangku Ukir







