Jepara, Fokuspers.com — Membaca cerita tidak hanya soal menyampaikan kata-kata. Intonasi, ekspresi, dan cara pembaca menghayati karakter turut menentukan bagaimana cerita diterima oleh pendengar. Hal itulah yang menjadi perhatian dalam Pelatihan Dramatic Reading sebagai Metode Membaca Ekspresif yang digelar Rumah Belajar Ilalang pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut membekali peserta dengan teknik membaca karya sastra secara ekspresif agar cerita dapat disampaikan lebih hidup kepada anak. Pelatihan ini merupakan bagian dari program “Penguatan Karakter Anak melalui Literasi Berbasis Buku, Dongeng, dan Kearifan Lokal” yang mendapat dukungan Hibah untuk Komunitas Literasi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Dua pemateri dihadirkan dalam kegiatan tersebut, yakni Rhobi Sani, sutradara dan produser teater asal Jepara, serta Ngateman.
Rhobi Sani memperkenalkan dramatic reading sebagai bentuk membaca indah dengan karya sastra sebagai bahan bacaan. Dalam praktiknya, pembaca perlu mempersiapkan vokal, warna suara, fokus, dan ekspresi agar penyampaian cerita tidak terasa datar.
Ekspresi dapat dibangun melalui mata, diperkuat gerak bibir, serta didukung gerakan tangan sebagai penegas. Berbeda dengan pementasan teater, dramatic reading tidak mengharuskan pembaca melakukan blocking. Pembacaan dapat dilakukan secara sederhana, seperti ketika membacakan puisi atau geguritan.
Pendekatan tersebut memberi alternatif bagi penggerak literasi dalam menghadirkan buku kepada anak. Cerita yang sama dapat terasa berbeda ketika dibawakan dengan penghayatan dan penyampaian yang sesuai.
Pembahasan kemudian berlanjut pada penghayatan karakter. Ngateman mengajak peserta memahami bahwa pembaca perlu masuk ke dalam karakter agar tidak sekadar mengucapkan teks.
“Dalam bercerita, kita bisa menjadi apa saja,” ujar Ngateman.
Menurutnya, proses tersebut membuat pembaca lebih memahami karakter dan perasaan yang terdapat dalam cerita. Dramatic reading juga dapat digunakan untuk melatih keberanian tampil di depan umum, kecakapan berkomunikasi, ketertarikan terhadap hal-hal baru, serta empati sosial.
Pemilihan bahan bacaan turut menjadi perhatian, terutama ketika cerita ditujukan kepada anak-anak. Tema perlu disesuaikan dengan hal yang dekat dengan minat mereka, sementara penggunaan bahasa dapat disesuaikan agar tetap sopan dan mudah dipahami.
Selain penghayatan, peserta juga mendapat pembekalan mengenai aspek teknis pembacaan, seperti pernapasan, tempo, dan nada. Dalam sesi tanya jawab, salah satu pembahasan berkaitan dengan pola napas pendek yang dapat membuat pembaca cepat kehabisan napas. Peserta diperkenalkan pada latihan pernapasan perut sebagai salah satu cara mengatasinya.
Peserta juga dianjurkan membaca teks secara berulang untuk menemukan tempo dan nada yang sesuai dengan karakter serta suasana cerita. Latihan tersebut membantu pembaca membangun penyampaian yang lebih terkontrol.
Ketua Rumah Belajar Ilalang, Muhammad Hasan atau Den Hasan, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman literasi yang lebih dekat dengan anak.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya membaca buku, tetapi mengalami cerita. Ketika mereka membaca dengan suara, ekspresi, dan penghayatan, mereka belajar memahami karakter, mengenali emosi, berkomunikasi, sekaligus membangun keberanian,” ujar Den Hasan.
Ia memandang literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Menurutnya, kegiatan literasi juga dapat menjadi ruang untuk melatih kemampuan berkomunikasi, kreativitas, keberanian, dan cara memahami orang lain.
“Literasi itu bukan hanya soal bisa membaca. Ada keberanian berbicara, kemampuan memahami orang lain, kreativitas, dan kemampuan mengekspresikan gagasan. Dramatic reading menjadi salah satu cara untuk mengembangkan itu,” lanjutnya.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program Rumah Belajar Ilalang yang akan dilanjutkan dengan Lokakarya Menulis Dongeng, Pelatihan Ilustrasi Dongeng dan Cerita Rakyat, serta Festival Membaca sebagai puncak kegiatan.
Rangkaian program itu dirancang untuk mempertemukan anak dengan buku melalui berbagai bentuk kegiatan kreatif. Setelah membaca, anak diajak mengenali cerita melalui proses bercerita, menulis, menggambar, hingga tampil di hadapan orang lain.
Dengan pendekatan tersebut, buku ditempatkan bukan sekadar sebagai bahan bacaan, melainkan sebagai titik awal bagi anak untuk berekspresi dan memahami lingkungan di sekitarnya.

