Lis Saidah: Mengubur Mimpi Demi Keluarga, Menyalakan Harapan untuk Anak-anaknya

Opini2 Dilihat

Jepara, Fokuspres.com – Di sebuah rumah sederhana di Desa Gemulung, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, tinggal seorang perempuan yang menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan kerja keras. Namanya Lis Saidah, lahir di Jepara pada 7 April 1984. Perjalanan hidupnya bukan tentang kemewahan atau keberuntungan, melainkan tentang bagaimana seseorang tetap bertahan ketika keadaan memaksanya mengorbankan impian demi keluarga.

Sejak kecil, Lis tumbuh dalam lingkungan yang sederhana. Pendidikan pertamanya dimulai di TK Gemulung. Pada masa itu, sekolah belum memiliki guru tetap sehingga kegiatan belajar dibimbing oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Semarang. Meski dengan segala keterbatasan, semangat belajar tidak pernah padam.

Setelah menyelesaikan pendidikan taman kanak-kanak, Lis melanjutkan sekolah di SD Negeri 2 Gemulung dan lulus pada tahun 1996. Perjalanan pendidikannya berlanjut di SLTP Negeri 1 Pecangaan hingga lulus pada tahun 1999. Selama menjadi siswa, ia dikenal rajin dan memiliki prestasi akademik yang baik. Ia pernah meraih peringkat tiga besar dan juga masuk sepuluh besar di kelas. Di luar kegiatan belajar, ia aktif mengikuti ekstrakurikuler Pramuka dan Komputer sebagai bekal untuk mengembangkan kemampuan diri.

Keberhasilannya di bangku SMP membangkitkan harapan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Lis diterima di SMA Sultan Agung yang berada di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara. Namun, harapan tersebut tidak berlangsung lama. Kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas membuatnya hanya mampu bersekolah selama satu tahun.

Saat itu, belum ada berbagai program bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) maupun Program Indonesia Pintar (PIP) yang dapat membantu siswa dari keluarga kurang mampu. Dengan berat hati, Lis harus menghentikan pendidikannya. Keputusan tersebut menjadi salah satu titik paling sulit dalam hidupnya. Bukan karena ia tidak ingin belajar, tetapi karena keadaan memaksanya memilih bekerja demi membantu keluarga.

Keputusan meninggalkan bangku sekolah menjadi awal perjalanan hidup yang penuh tantangan. Lis mulai bekerja di bidang konveksi. Tidak lama kemudian, ia memperoleh pekerjaan di PT Satin Abadi, Ngabul, Tahunan, Jepara. Sejak tahun 2002 hingga 2013, ia bekerja dengan penuh tanggung jawab demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Di tengah kesibukan bekerja, kebahagiaan datang ketika pada tahun 2005 ia menikah dengan Asrofi. Pernikahan tersebut menjadi awal perjuangan baru dalam membangun rumah tangga. Bersama suaminya, Lis menghadapi berbagai tantangan ekonomi dengan saling menguatkan dan bekerja keras agar kehidupan keluarga menjadi lebih baik.

Dari pernikahan itu lahirlah dua orang anak, yaitu Abimanyu Muhammad Arifin dan Nada Rizqi Yusril Wafa. Kehadiran kedua anak menjadi sumber semangat terbesar dalam hidup Lis. Segala lelah yang dirasakan setiap hari seolah terbayar ketika melihat anak-anaknya tumbuh dengan sehat dan memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Ketika anak keduanya berusia tiga tahun, Lis kembali bekerja. Hingga kini, ia telah mengabdikan dirinya selama lebih dari sepuluh tahun di PT Hwaseung. Setiap hari ia menjalani rutinitas sebagai pekerja pabrik dengan tujuan yang sederhana tetapi sangat berarti, yaitu memenuhi kebutuhan keluarga dan memastikan kedua anaknya dapat terus bersekolah.

Baginya, pendidikan adalah warisan terbaik yang dapat diberikan kepada anak-anak. Impian yang dahulu tidak sempat ia wujudkan kini ia titipkan kepada mereka. Anak pertamanya, Abimanyu Muhammad Arifin, saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Nahdlatul Ulama Jepara melalui program kuliah kelas karyawan. Pilihan tersebut diambil agar ia dapat membantu membiayai kuliahnya sendiri sekaligus meringankan beban orang tua. Sementara itu, anak keduanya, Nada Rizqi Yusril Wafa, sedang bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama.

Bagi Lis Saidah, keberhasilan bukan diukur dari jabatan ataupun kekayaan. Kebahagiaan terbesar baginya adalah melihat anak-anak memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik daripada yang pernah ia rasakan. Pengalaman hidup yang penuh keterbatasan justru membentuknya menjadi pribadi yang tangguh, sabar, dan tidak mudah menyerah.

Sebagai seorang ibu, Lis selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anaknya. Ia berpesan agar mereka tidak pernah meninggalkan salat karena salat merupakan pegangan hidup dalam menghadapi berbagai persoalan. Selain itu, ia mengajarkan pentingnya belajar dengan sungguh-sungguh, menghormati orang tua, serta menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Harapan terbesar Lis sangat sederhana. Ia ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah, berbakti kepada orang tua, berguna bagi keluarga, agama, bangsa, dan negara. Baginya, kesuksesan sejati bukan hanya tentang pekerjaan yang baik, tetapi juga tentang menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Perjalanan hidup Lis Saidah adalah potret nyata perjuangan seorang perempuan Indonesia. Ia mungkin tidak sempat menyelesaikan pendidikan, tetapi ia tidak pernah berhenti belajar tentang kehidupan. Dari ruang produksi pabrik hingga kehangatan rumah sederhana, ia terus menulis kisah perjuangan dengan kerja keras, keikhlasan, dan kasih sayang.

Di balik senyum yang sederhana, tersimpan pengorbanan yang begitu besar. Bersama suaminya, Asrofi, Lis membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk membangun masa depan yang lebih baik. Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa setiap tetes keringat orang tua adalah doa yang sedang diperjuangkan agar anak-anaknya dapat menggapai cita-cita yang lebih tinggi daripada yang pernah mereka impikan sendiri.