Kuswanto, Mengabdi dengan Ketulusan

Foto Kisah5 Dilihat

Fokuspers.com – Kuswanto, pria asal Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, dikenal sebagai sosok yang berwibawa sekaligus bersahaja. Postur tubuhnya yang tinggi, kulit sawo matang, kacamata, serta kumis yang menjadi ciri khasnya membuat penampilannya tampak gagah dan penuh percaya diri. Namun, kesan pertama itu segera berpadu dengan sikapnya yang hangat. Siapa pun yang berbincang dengannya akan merasakan keramahan yang membuat suasana terasa akrab, baik dalam percakapan ringan maupun diskusi yang lebih mendalam.

Di balik pembawaannya yang tegas, Kuswanto memiliki pribadi yang humoris, mudah bergaul, dan berjiwa ekstrovert. Kemampuannya membangun komunikasi dengan berbagai kalangan menjadikannya dikenal luas di tengah masyarakat. Kini, ia mengabdikan diri sebagai Penyuluh Agama Islam dengan aktif memberikan bimbingan dan edukasi keagamaan. Di sela kesibukannya, ia tetap meluangkan waktu membaca kitab-kitab keislaman serta mendengarkan ceramah sebagai ikhtiar memperluas wawasan dan memperkaya bekal dalam menjalankan tugas maupun kehidupan sehari-hari.

Perjalanan pendidikannya ditempuh secara bertahap dengan penuh kesungguhan. Pendidikan dasar diselesaikannya di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Mojo, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri Bawu. Saat memasuki jenjang pendidikan menengah atas, ia sempat menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Filial Probolinggo sebelum akhirnya pindah dan menyelesaikannya di Madrasah Aliyah Negeri Bawu. Semangat belajarnya tidak berhenti setelah lulus sekolah. Ia melanjutkan pendidikan sarjana (S1) di IAIN Walisongo, kemudian meraih gelar magister (S2) di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang. Perjalanan tersebut menjadi bukti tekadnya untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan.

Dalam kehidupan keluarga, Kuswanto merupakan anak keenam dari enam bersaudara. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang berkecukupan. Orang tuanya memiliki usaha mebel yang berkembang sehingga kebutuhan keluarga dapat terpenuhi dengan baik. Setelah dewasa, ia menikah dengan Rahma Hidayati dan dikaruniai lima orang anak, yakni Jauharotus Syifa Kusrah Sanjani, Misyfa Nabeellah, Muhammad Asylkur Hasan Sandzali, Qonitatul Kholishoh, serta seorang anak lainnya. Bagi Kuswanto, keluarga adalah sumber semangat sekaligus alasan utama untuk terus berjuang. Sebagai kepala keluarga, ia berupaya memberikan kasih sayang, pendidikan, dan kehidupan yang layak bagi seluruh anak-anaknya.

Kesibukan sebagai penyuluh tidak membuatnya lepas dari kehidupan bermasyarakat. Meski pekerjaannya kerap mengharuskannya berada di luar rumah, ia tetap aktif mengemban amanah di berbagai organisasi keagamaan. Kuswanto dipercaya sebagai Ketua Al Khidmah Jepara, Ketua LDNU, serta terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan lainnya. Melalui peran tersebut, ia berusaha mempererat silaturahmi, menyebarkan nilai-nilai keislaman, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Kepercayaan yang diberikan kepadanya menjadi cerminan dedikasi dan integritas yang selama ini ia bangun.

Perjalanan hidup Kuswanto tidak selalu berjalan mudah. Ketika menempuh pendidikan tinggi, ia harus membiayai kuliahnya sendiri dengan bekerja sambilan. Setelah berumah tangga, kondisi ekonomi keluarganya juga masih sederhana. Rumah pertama yang ditempati bersama keluarga merupakan rumah kayu pemberian orang tuanya. Dalam aktivitas dakwah bersama Al Khidmah di berbagai daerah, ia pun kerap bepergian menggunakan bus bersama rombongan. Berbagai keterbatasan itu tidak pernah membuatnya berhenti melangkah. Dengan kerja keras, kesabaran, dan doa yang terus dipanjatkan, ia perlahan mampu melewati setiap tantangan hingga mencapai kehidupan yang lebih baik.

Hasil dari perjuangan panjang itu mulai terlihat seiring berjalannya waktu. Berkat kerja keras, kedisiplinan, dan keteguhannya memegang nilai-nilai agama, Kuswanto berhasil membangun rumah yang lebih layak, memiliki kendaraan untuk menunjang kebutuhan keluarga, serta menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Di samping itu, ia juga memperoleh pekerjaan yang baik dan membangun relasi dengan banyak kalangan. Meski demikian, ia tetap dikenal sebagai pribadi yang berbakti kepada orang tua, istiqamah menjalankan puasa Senin-Kamis, memperbanyak sholawat, mengamalkan nasihat para guru, serta mengabdikan diri di majelis spiritual. Amanah sebagai Penyuluh Agama Islam menjadi puncak perjalanan kariernya, sebuah profesi yang tidak hanya menjadi mata pencaharian, tetapi juga ruang untuk mengabdi kepada agama dan masyarakat.

Bagi Kuswanto, setiap perjalanan hidup adalah proses belajar. Pengalaman, tantangan, maupun keberhasilan diyakininya sebagai bagian dari proses pembentukan karakter. Nilai-nilai yang diwariskan keluarga, diajarkan para guru, dan ditanamkan oleh para sesepuh menjadi pegangan yang terus ia jaga dalam menjalani kehidupan. Dengan terus berusaha, berdoa, dan memegang prinsip-prinsip kebaikan, ia berharap dapat menjadi pribadi yang bermanfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri dan keluarga, tetapi juga bagi masyarakat serta lingkungan sekitarnya.

Salah satu nasihat yang selalu dijadikan pedoman hidupnya berbunyi, “Dadikke amalan soko Mbah Yai kuwi dadi cekelanmu neng endi wae, kuwi gawe uripmu mbesuk.” Artinya, jadikan amalan dari Mbah Yai sebagai pegangan di mana pun berada, karena itulah yang akan menjadi bekal kehidupanmu kelak. Nasihat tersebut selaras dengan ungkapan Buya Hamka, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Bagi Kuswanto, kehidupan tidak cukup dijalani hanya untuk bertahan. Hidup harus memiliki tujuan, dijalani dengan nilai-nilai kebaikan, serta memberi manfaat bagi sesama agar setiap langkah yang ditempuh bernilai ibadah dan menjadi bekal menuju kehidupan yang lebih baik.