Abdullah Hafid : Menapaki Jalan Pendidikan dengan Keberkahan

Opini3 Dilihat

Jepara, Fokuspres.com – Di sebuah desa sederhana bernama Blebak, Jepara, lahir seorang anak yang kelak mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Ia adalah Abdullah Hafid, S.Ag., M.Pd., sosok pendidik yang meyakini bahwa kesuksesan bukan hanya diukur dari jabatan atau harta, melainkan dari keberkahan ilmu dan manfaat yang diberikan kepada orang lain. Perjalanan hidupnya dipenuhi perjuangan, hingga akhirnya dipercaya memimpin sebuah madrasah. Semua itu berawal dari didikan orang tua yang sederhana, tetapi memiliki keyakinan besar bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan.

Abdullah Khafid merupakan anak ketiga dari lima bersaudara, putra pasangan Haji Muhammad Shodiq dan Hajah Senipah. Meski hidup dalam keterbatasan, kedua orang tuanya menanamkan pentingnya menyeimbangkan ilmu agama dan ilmu umum. Berkat prinsip tersebut, seluruh anak mereka berhasil menempuh pendidikan tinggi, bahkan empat di antaranya pernah menjadi kepala sekolah.

Sejak kecil, Abdullah Hafid dididik untuk mandiri dengan membantu pekerjaan rumah dan bertani. Pengalaman itu membentuk karakter pekerja keras, disiplin, dan bertanggung jawab.

Perjalanan pendidikannya penuh perjuangan. Ia harus berjalan kaki menuju SD karena belum ada MI di desanya, kemudian bersepeda melewati sawah dan jalan berlumpur saat bersekolah di MTs. Setelah lulus MA, pada tahun 1992 ia melanjutkan studi di Fakultas Syari’ah IAIN Semarang. Semangat belajarnya terus berlanjut melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) hingga meraih gelar Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I.).

Memilih menjadi guru, Abdullah Hafid tetap mengajar meski menerima honor yang sangat kecil karena meyakini profesi tersebut sebagai jalan pengabdian yang penuh keberkahan. Pada tahun 2004, ia menikah dan dikaruniai dua orang anak. Bersama sang istri, ia saling mendukung, menyemangati, dan berdiskusi dalam menjalani kehidupan keluarga maupun pengabdian di dunia pendidikan.

Dedikasinya membuat ia dipercaya menjadi Wakil Kepala Bidang Kurikulum, Kepala Tata Usaha, kemudian kembali menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Kurikulum. Pada tahun 2026, ia diamanahi sebagai Kepala MA Mathalibul Huda Mlonggo. Di bawah kepemimpinannya, madrasah terus berkembang melalui penguatan kedisiplinan, budaya religius, pembinaan karakter, serta pengembangan program keterampilan seperti otomotif, tata boga, tata busana, dan multimedia.

Bagi Abdullah Hafid, menjadi guru adalah jalan untuk memberi manfaat. Prinsip hidupnya sejalan dengan sabda Rasulullah saw., Khairun-nāsi anfa’uhum lin-nās, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Ia juga meyakini, Tsawābuka bita’abika, “Pahalamu sesuai dengan keletihan atau perjuanganmu,” sehingga setiap usaha harus dijalani dengan ikhlas karena mengharap rida Allah, bukan imbalan manusia.

Kepada Generasi Z, ia berpesan agar terus menuntut ilmu, bekerja keras, dan menjaga keikhlasan. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Baginya, ilmu, keikhlasan, dan pengabdian adalah kunci meraih keberkahan hidup sekaligus menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.