Kiai Muhammad Choirul Misbah: Meneladani Nabi dan Memahami Sejarah Kepemimpinan Umat

Berita8 Dilihat
Kiai Muhammad Choirul Misbah Sampaikan Kajian Ahad Pagi di Masjid Jami' Raudlatul Falah Sekuro
Kiai Muhammad Choirul Misbah Sampaikan Kajian Ahad Pagi di Masjid Jami’ Raudlatul Falah Sekuro

Jepara, fokuspres.com– Suasana sejuk menyelimuti kawasan Masjid Jami’ Raudlatul Falah, Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo, Jepara, Meski jalan di depan masjid sedang dalam perbaikan sehingga akses kendaraan roda dua maupun roda empat sedikit terganggu, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat warga untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah dan mengikuti kajian Ahad pagi.

Seusai salat Subuh, jamaah mengikuti kajian yang disampaikan Muhammad Choirul Misbah. Dalam kajiannya, ia mengawali pembahasan dengan mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan diri. Ia menyampaikan bahwa setelah buang air besar dan membersihkan diri, seseorang dianjurkan memperhatikan kebersihan mulut, salah satunya dengan bersiwak atau menyikat gigi.

“Orang setelah buang air besar dan dibersihkan dianjurkan untuk siwakan atau sikatan,” ungkap Kiai Muhammad Choirul Misbah saat menyampaikan siraman pagi di Masjid Jami’ Raudlatul Falah Sekuro, Ahad (16/8/2026).

Menurutnya, ajaran Islam tidak hanya mengatur persoalan ibadah, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kebersihan dan kesehatan diri. Anjuran bersiwak merupakan salah satu tuntunan Nabi Muhammad SAW. yang banyak disebut dalam hadis sebagai bagian dari menjaga kebersihan mulut.

Pembahasan kemudian berlanjut pada keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam mencintai tempat tinggal dan tanah kelahirannya. Kiai Muhammad Choirul Misbah menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW. memiliki kecintaan terhadap tanah air. Kecintaan tersebut, menurutnya, dapat dilihat dari hubungan Nabi dengan Makkah dan Madinah sebagai dua tempat penting dalam perjalanan dakwah Islam.

Dalam berbagai riwayat, Nabi Muhammad SAW. juga menunjukkan kecintaannya terhadap Makkah dan Madinah. Hal tersebut menjadi salah satu dasar yang sering digunakan ulama dalam menjelaskan bahwa kecintaan terhadap tanah air tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sementara ungkapan hubbul wathan minal iman yang populer di masyarakat bukanlah hadis Nabi, meskipun maknanya memiliki landasan dari ajaran Islam mengenai kecintaan terhadap tempat tinggal dan tanah air.

Kiai Muhammad Choirul Misbah kemudian mengajak jamaah mengingat perjalanan perubahan kiblat umat Islam. Ia menjelaskan bahwa pada masa awal di Madinah, Nabi Muhammad SAW. dan kaum Muslimin melaksanakan salat menghadap Baitul Maqdis sebelum Allah SWT memerintahkan perubahan arah kiblat menuju Masjidil Haram di Makkah.

“Selama 16 bulan Nabi diperintahkan menghadap Masjidil Aqsha. Kemudian Nabi diperintahkan kembali menghadap Makkah,” katanya.

Perubahan kiblat tersebut berkaitan dengan turunnya QS Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW. untuk mengarahkan wajah ke Masjidil Haram. Sejumlah riwayat menyebut masa menghadap Baitul Maqdis sekitar 16 hingga 17 bulan. Peristiwa itu menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah umat Islam sekaligus menegaskan posisi Masjidil Haram sebagai kiblat kaum Muslimin.

Dalam kajian tersebut, Kiai Muhammad Choirul Misbah juga membahas perjalanan sejarah kepemimpinan umat Islam. Ia menyebut adanya beberapa fase, mulai dari masa kenabian, masa para sahabat, masa kerajaan, hingga fase pemerintahan yang bersifat otoriter.

Ia menjelaskan bahwa fase pertama merupakan fase nubuwah, yakni masa ketika Nabi Muhammad SAW. menjadi pemimpin umat. Setelah itu dilanjutkan dengan fase kepemimpinan para sahabat, kemudian fase kerajaan yang ia kaitkan dengan pemerintahan dinasti Umayyah dan Abbasiyah.

“Fase nubuwah atau zaman khairul wurud yang dipimpin Kanjeng Nabi Muhammad SAW., fase Al-khilāfah ‘alā minhāj al-nubuwwah atau fase sahabat, fase Mulkan Adhan, fase yang dipimpin oleh raja-raja, seperti pada masa Umayyah dan Abbasiyah. Fase keempat Mulkan Jabariyah atau raja anarkis,” tutur Kiai Choirul Misbah dengan senyum kepada jamaah.

Ia selanjutnya menyebut adanya fase khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang dalam sebagian kajian keislaman dikaitkan dengan kepemimpinan Imam Mahdi pada akhir zaman. Pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan kepada jamaah mengenai gambaran perjalanan sejarah kepemimpinan umat sebagaimana dijelaskan hadist Nabi Muhammad SAW.