Fokuspers.com — Di kompleks yang menyatukan Panti Asuhan Darul Aitam Masyhuriyah dan Pondok Pesantren Darussalam di Bangsri, Jepara, nama Kiai Ahmad Arwani dikenal sebagai sosok pengasuh yang memegang teguh satu prinsip sederhana, tetapi tidak mudah diwujudkan dalam praktik pendidikan. Baginya, tidak ada perbedaan antara santri dan anak yatim yang diasuh di panti. Semua berhak memperoleh pendidikan, perhatian, dan kasih sayang yang sama. Selama bertahun-tahun, ia memimpin Pondok Pesantren Darussalam sekaligus Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam Masyhuriyah dalam satu lingkungan yang berpijak pada semangat keadilan dan kebersamaan.
Bagi Kiai Ahmad Arwani, dakwah tidak berhenti pada ceramah atau penyampaian ilmu agama semata. Dakwah harus hadir dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Karena itu, ia membangun lingkungan pendidikan yang mampu mempertemukan anak-anak dari berbagai latar belakang tanpa sekat sosial. Santri maupun anak panti hidup, belajar, dan beribadah bersama sehingga nilai persaudaraan tumbuh secara alami dalam keseharian mereka.
Semangat tersebut berakar dari perjalanan pendidikannya. Ahmad Arwani menempuh pendidikan dasar di MI Hasyim Asy’ari Bangsri, kemudian melanjutkan ke MTs Hasyim Asy’ari Bangsri. Setelah itu, ia meneruskan pendidikan di MA Al Anwar Sarang sekaligus menjalani kehidupan sebagai santri. Pengalaman belajar di lingkungan pesantren membentuk cara pandangnya terhadap pentingnya pendidikan agama yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian, kedisiplinan, dan pengabdian kepada sesama.
Dalam kehidupan keluarga, Ahmad Arwani merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ia menikah dengan Anis Ckadroh dan dikaruniai dua orang putri, yaitu Fiqotul Aifah dan Asyiqotul Faizah. Di tengah kesibukannya memimpin pondok pesantren dan panti asuhan, keluarga menjadi tempat ia memperoleh dukungan sekaligus sumber semangat dalam menjalankan amanah yang diembannya.
Konsistensi menjadi kunci utama dalam perjalanan dakwah yang ia bangun. Ahmad Arwani tidak hanya menyampaikan nilai-nilai keagamaan melalui ceramah, tetapi juga menghadirkannya dalam sistem pendidikan yang diterapkan. Ia merancang pola pembinaan yang inklusif dengan menyatukan kehidupan santri dan anak panti dalam satu lingkungan yang sama. Berbagai kegiatan keagamaan dijalankan secara teratur, mulai dari pembacaan Burdah, madrasah diniyah, pengajian kitab kuning, hingga mukhafadzah atau setoran hafalan. Melalui rutinitas tersebut, ia berusaha membentuk karakter sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di antara para peserta didik.
Perjalanan itu tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Padatnya aktivitas pendidikan terkadang membuat anak-anak harus membagi tenaga dan waktu dengan baik agar tidak mengalami kelelahan. Di sisi lain, metode dakwah yang masih didominasi pendekatan tradisional menghadapi tantangan baru di tengah perkembangan zaman yang menawarkan berbagai bentuk pembelajaran yang lebih interaktif. Regenerasi pendakwah juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri karena banyak program masih bertumpu pada peran sentral dirinya. Selain itu, keterbatasan tenaga pendidik dan fasilitas menjadi tantangan yang harus terus dihadapi demi menjaga keberlangsungan program pendidikan dan dakwah di masa mendatang.
Di balik berbagai tantangan tersebut, Ahmad Arwani berhasil membangun sebuah model pendidikan yang memiliki ciri khas tersendiri. Di bawah kepemimpinannya, Panti Asuhan Darul Aitam Masyhuriyah dan Pondok Pesantren Darussalam tumbuh menjadi ruang bersama tempat santri dan anak panti menjalani kehidupan tanpa perbedaan perlakuan. Keberhasilan itu tidak terlepas dari kerja sama yang solid antara pengurus pondok pesantren, pengurus LKSA, serta para ustaz dan ustazah yang mendampingi kegiatan madrasah diniyah maupun pembinaan hafalan setiap hari.
Model dakwah yang dikembangkan Ahmad Arwani dinilai memiliki potensi menjadi contoh bagi lembaga pendidikan Islam lainnya. Pendekatan yang mengedepankan keadilan, kebersamaan, dan kesetaraan mampu membentuk karakter sekaligus memperkuat solidaritas sosial di kalangan anak didik. Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari orang tua dan wali santri, masyarakat sekitar, hingga instansi pemerintah seperti Kementerian Agama dan Dinas Sosial yang turut mendukung keberlangsungan program pendidikan dan pembinaan yang dijalankannya.
Bagi Ahmad Arwani, keadilan bukan sekadar konsep yang disampaikan dalam dakwah, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui ruang belajar yang sama, perlakuan yang setara, dan kesempatan yang sama bagi setiap anak, ia menunjukkan bahwa dakwah dapat hadir dalam tindakan nyata.
Dari Bangsri, Kiai Ahmad Arwani mengajarkan bahwa pengabdian kepada sesama tidak ditentukan oleh latar belakang seseorang. Selama keadilan menjadi landasan, dakwah akan tumbuh sebagai jalan untuk membangun kepedulian, persaudaraan, dan kebermanfaatan bagi banyak orang.
