IMPI Bahas Ketahanan Ketuhanan untuk Menjaga NKRI di Era Krisis Multidimensi

Berita, Nasional153 Dilihat

Kudus, fokuspres.com- Di tengah suasana malam tirakatan menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Ikatan Maheswara dan Penceramah Indonesia (IMPI) menggelar tirakatan dalam format berbeda. Bukan berkumpul di satu tempat, para peserta menyatukan refleksi kebangsaan melalui webinar nasional bertajuk “Dari Proklamasi ke Spiritual Security: Menjaga NKRI dengan Ketahanan Ketuhanan” Minggu malam (16/8/2026).

Forum tersebut mengangkat Ketahanan Ketuhanan sebagai pijakan moral dan spiritual dalam menghadapi krisis multidimensi yang dihadapi bangsa.

banner 336x280

Webinar menghadirkan Doktor Nur Said, Maheswara Utama BPIP sekaligus Penggerak Literasi Pancasila UIN Sunan Kudus, sebagai narasumber. Diskusi dipandu Devid Saputra.

Lebih dari 50 peserta mengikuti kegiatan melalui Zoom. Mayoritas peserta merupakan Maheswara Utama dan Penceramah Indonesia yang memiliki latar belakang sebagai pelatih dalam pelatihan khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Dalam paparannya, Nur Said menjelaskan bahwa perjalanan bangsa dari Proklamasi menuju Spiritual Security perlu dipahami sebagai upaya memperluas makna kemerdekaan. Proklamasi 17 Agustus 1945 menandai terbebasnya Indonesia dari penjajahan politik, tetapi kemerdekaan perlu diisi dengan kemampuan menjaga martabat, moralitas, persatuan, dan kehidupan bersama.

Menurutnya, tantangan bangsa saat ini tidak hanya berupa ancaman fisik dan geopolitik, tetapi juga krisis keteladanan, korupsi, intoleransi, polarisasi sosial, disinformasi, kekerasan, degradasi lingkungan, dan krisis makna di tengah perkembangan teknologi digital.

“Karena itu, kita membutuhkan konsep keamanan yang tidak hanya menjaga wilayah, tubuh dan institusi negara, tetapi juga menjaga jiwa bangsa. Inilah yang saya sebut sebagai spiritual security atau keamanan spiritual,” ujar Nur Said.

Ia menjelaskan bahwa spiritual security bukan upaya menjadikan agama tertentu sebagai instrumen keamanan negara. Konsep tersebut menempatkan nilai spiritual dan Ketuhanan sebagai sumber etika publik yang mendorong tanggung jawab, penghormatan terhadap martabat manusia, persatuan, dan kepedulian terhadap kehidupan.

Dalam konteks Indonesia, gagasan tersebut memiliki pijakan pada sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Nur Said menekankan bahwa Ketuhanan tidak cukup berhenti sebagai keyakinan personal, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

“Ketuhanan harus hadir sebagai kekuatan moral yang membuat manusia mampu membedakan yang benar dan salah, yang adil dan tidak adil, yang merawat dan yang merusak. Karena itu, ketahanan ketuhanan sesungguhnya adalah ketahanan etis bangsa,” tegasnya.

Nur Said kemudian menjelaskan Ketahanan Ketuhanan sebagai perspektif dalam memperkuat ketahanan nasional.

Menurutnya, ketahanan bangsa tidak hanya berkaitan dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan, tetapi juga kemampuan mempertahankan orientasi moral dan spiritual dalam menghadapi tekanan zaman.

Ketahanan Ketuhanan, lanjutnya, merupakan kemampuan individu, masyarakat, dan bangsa mempertahankan orientasi transendental, integritas moral, tanggung jawab sosial, solidaritas kemanusiaan, serta komitmen kebangsaan di tengah perubahan dan krisis.

Ia menegaskan bahwa Ketahanan Ketuhanan tidak berada di luar Pancasila. Nilai Ketuhanan menjadi fondasi etis dalam pengamalan Pancasila, sementara nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pertanyaannya bukan hanya seberapa kuat Indonesia secara ekonomi, politik dan teknologi, tetapi juga seberapa kuat Indonesia mempertahankan nilai-nilai yang membuatnya tetap menjadi Indonesia,” katanya.

Webinar tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi pada malam menjelang peringatan kemerdekaan. Diskusi yang berkembang membuat kegiatan berlangsung lebih lama dari jadwal semula. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu Pancasila, spiritual security, dan Ketahanan Ketuhanan memiliki relevansi bagi para Maheswara Utama dan Penceramah dalam memperkuat literasi kebangsaan.

Melalui webinar tersebut, IMPI mendorong agar kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan politik, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk menjaga moral, persatuan, dan nilai-nilai kebangsaan. Ketahanan Ketuhanan dipandang sebagai salah satu fondasi etis untuk menghadapi berbagai tantangan dan menjaga keberlanjutan NKRI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *