Merajut Dialog Akademik, FKD UNISNU dan UNUD Perkuat Kolaborasi Keilmuan

Berita, Pendidikan108 Dilihat

Denpasar, Fokuspers.com – Suasana akademik terasa hangat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, Denpasar, Selasa (20/1/2026). Fakultas Komunikasi dan Desain (FKD) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara bersama Universitas Udayana (UNUD) menggelar seminar akademik sebagai ruang dialog dan kolaborasi keilmuan antarsivitas akademika.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan, tetapi juga memperkuat hubungan kerja sama antarperguruan tinggi. Mahasiswa dan dosen dari kedua institusi hadir dan terlibat aktif dalam diskusi, menciptakan suasana seminar yang komunikatif dan partisipatif.

banner 336x280

Dalam sesi pemaparan, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Udayana, Briant Nor Pradhuka, mengajak mahasiswa untuk merefleksikan kembali makna komunikasi di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks. Ia menekankan pentingnya tiga soft skill utama yang perlu dimiliki generasi muda, yakni etika, empati, dan kemampuan berpikir kritis.

Menurutnya, etika menjadi fondasi dalam membangun komunikasi yang bermartabat dan profesional. Sementara empati memungkinkan seseorang memahami perasaan dan sudut pandang orang lain, sehingga pesan yang disampaikan tidak sekadar sampai, tetapi juga bermakna. Di sisi lain, kemampuan berpikir kritis diperlukan agar mahasiswa mampu menyaring informasi dan mengambil keputusan secara objektif.

“Komunikasi bukan hanya soal berbicara, tetapi bagaimana pesan itu bisa dipahami. Untuk itu, memahami unsur komunikasi menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain UNISNU Jepara, Agus Subhan Akbar, mengangkat isu perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang kini semakin dekat dengan kehidupan akademik. Ia menilai AI dapat menjadi alat bantu yang efektif dalam mendukung riset, pengolahan data, hingga produksi konten, selama digunakan secara bijak.

“AI tidak hadir untuk menggantikan peran manusia, tetapi membantu agar pekerjaan menjadi lebih efektif. Yang terpenting adalah bagaimana mahasiswa tetap menjaga etika dan sikap kritis dalam memanfaatkannya,” tuturnya.

Ia berharap mahasiswa mampu menjadikan teknologi sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan jalan pintas yang menghilangkan proses berpikir. Dengan pemahaman yang tepat, AI justru dapat membuka peluang baru dalam pengembangan ilmu dan praktik komunikasi.

Melalui seminar ini, peserta tidak hanya memperoleh wawasan akademik, tetapi juga kesempatan untuk saling belajar dan bertukar pengalaman lintas kampus. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal dalam memperkuat jejaring keilmuan serta menumbuhkan semangat kolaborasi di kalangan akademisi muda.