Navigasi Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Dinamika Globalisasi 2025-2026

Ekonomi, Opini36 Dilihat

Globalisasi memberikan dampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan, terutama pada perubahan struktur ekonomi global. Ketidakpastian ekonomi dunia pada periode 2025-2026 kembali menjadi perhatian utama bagi para pengamat dan pembuat kebijakan. Pertumbuhan ekonomi dunia yang masih berada di bawah ritme historis, disertai dinamika geopolitik dan fluktuasi pasar internasional, menciptakan tantangan serius bagi stabilitas nasional. Meskipun ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan positif di atas 5 persen, tekanan global berupa perlambatan ekspor, penurunan investasi asing, serta ketidakpastian perdagangan terus menguji ketahanan domestik.

Pemerintah menutup tahun 2025 dengan kinerja ekonomi yang relatif terjaga. Namun, volatilitas pasar keuangan dan pelemahan ekonomi global tetap menjadi penghalang bagi Indonesia dalam memperkuat fondasi pertumbuhan. Globalisasi berfungsi sebagai pedang bermata dua; di satu sisi menjadi katalisator pertumbuhan melalui akses pasar internasional, investasi asing langsung (FDI), dan transfer teknologi. Di sisi lain, integrasi ini mengekspos negara pada kerentanan seperti deindustrialisasi prematur dan ketergantungan impor. Kunci ketahanan bukan terletak pada penolakan globalisasi, melainkan pada keseimbangan cermat antara integrasi global dan penguatan kapasitas domestik melalui investasi modal manusia dan literasi digital.

Pemerintah mencermati adanya pergeseran tantangan ekonomi serta perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang kini lebih selektif dan berorientasi digital (digital-oriented). Kontribusi ekonomi terhadap PDB dunia yang terus bergeser menandakan peran strategis sekaligus tantangan besar dalam mendorong pertumbuhan. Salah satu hambatan utama bagi negara dengan ekonomi terbuka adalah ketergantungan tinggi pada pasar global. Perubahan struktur ini memaksa negara untuk lebih intens berpartisipasi dalam aliran modal dan teknologi, yang secara bersamaan meningkatkan risiko terhadap guncangan eksternal.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tanpa penguatan ketahanan internal, dampak negatif perubahan global dapat mengancam stabilitas domestik. Studi kualitatif menggunakan data sekunder dari jurnal dan laporan kebijakan menegaskan bahwa meskipun globalisasi menawarkan peluang investasi, ancaman defisit perdagangan dan deindustrialisasi tetap nyata. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan adaptif yang mengintegrasikan penguatan industri lokal dengan kerja sama ekonomi regional. Keseimbangan ini krusial untuk memastikan pembangunan berkelanjutan yang mampu melindungi kepentingan ekonomi nasional tanpa menutup diri dari kemajuan internasional.

Secara teoretis, ekspor berpengaruh positif terhadap perekonomian dan menjadi mesin utama pembangunan berkelanjutan yang stabil. Perdagangan internasional mampu mendorong pertumbuhan jangka panjang, meski dalam jangka pendek sering kali memicu volatilitas akibat fluktuasi permintaan global. Keterbukaan perdagangan tidak hanya memengaruhi indikator makro seperti PDB, tetapi juga distribusi pendapatan. Studi oleh Agusalim dan Suzuda menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, keterbukaan perdagangan berisiko meningkatkan ketimpangan pendapatan di Indonesia. Jika tidak diatasi, hal ini akan memperlemah fondasi daya saing nasional dan stabilitas sosial.

Kondisi tersebut mempertegas bahwa ketergantungan pada ekspor komoditas primer, seperti batubara, minyak sawit, dan nikel, menciptakan risiko struktural. Fluktuasi harga komoditas global dapat memicu volatilitas nilai tukar dan aliran modal yang tidak stabil. Literatur ekonomi memperingatkan adanya risiko Dutch Disease, di mana sektor manufaktur melemah akibat apresiasi nilai tukar dari surplus sektor sumber daya alam. Strategi hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk menjadi sangat krusial guna mengurangi kerentanan ini dan menyerap lebih banyak tenaga kerja produktif.

Selain aspek komoditas, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola konsumsi secara fundamental. E-commerce dan layanan finansial digital memperluas akses pasar, namun juga menciptakan tantangan berupa ketimpangan infrastruktur antara wilayah urban dan rural. Di sisi lain, kebijakan fiskal dan moneter harus berkoordinasi efektif. Kebijakan fiskal ekspansif diperlukan untuk merangsang permintaan selama perlambatan global, sementara kebijakan moneter harus menjaga inflasi tetap terkendali agar produk domestik tetap kompetitif.

Sebagai perbandingan, Vietnam berhasil memanfaatkan globalisasi melalui reformasi kebijakan yang fokus pada industri manufaktur bernilai tambah tinggi. Indonesia dapat mengadopsi strategi serupa dengan mempertimbangkan skala ekonomi yang lebih besar dan keragaman sumber daya. Integrasi melalui ASEAN Economic Community (AEC) juga harus dioptimalkan sebagai platform strategis untuk harmonisasi standar produk dan peningkatan konektivitas logistik, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk asing.

Penelitian terhadap delapan anggota ASEAN (Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Myanmar) periode 2015-2020 menggunakan Fixed Effect Model memberikan temuan penting. Variabel angkatan kerja dan keterbukaan perdagangan memiliki pengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, variabel pengeluaran pemerintah ditemukan berpengaruh negatif dan signifikan pada periode tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas belanja negara harus dievaluasi agar benar-benar mendukung sektor produktif di tengah persaingan yang kian ketat.

Menghadapi persaingan global yang kompleks, Indonesia dituntut untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Keseimbangan antara keterbukaan pasar dan penguatan industri dalam negeri adalah kunci utama menjaga kedaulatan ekonomi. Langkah strategis seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia, inovasi teknologi berbasis potensi domestik, dan kebijakan inklusif akan memastikan pertumbuhan tidak hanya dinikmati segelintir elit, tetapi juga memberikan manfaat merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi faktor penentu dalam menciptakan struktur ekonomi yang tangguh. Dengan mendorong pemerataan pembangunan dan meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, Indonesia dapat mengubah tantangan globalisasi menjadi peluang nyata. Strategi yang berorientasi ke depan dan adaptif akan membawa Indonesia menuju kemakmuran inklusif serta stabilitas ekonomi jangka panjang di tengah pusaran dinamika internasional yang penuh ketidakpastian.

Sumber referensi

  • Setiani, Mustika. Jurnal Ekonomi &Bisnis. Analisis Peluang dan Ancaman dalam Perdagangan Bebas Komoditas Pertanian: Studi Kasus Indonesia dan Jepang. VOL. 4 NO. 2 (2025): SEPTEMBER 2025
  •  Ine Savilia, Sarpini, Kholissotun Khasanah. Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Manajemen. Ekonomi Terbuka dan Ketahanan Ekonomi: Tantangan dan Peluang di Era Globalisa. Vol.3, No.1 Januari
  •  Hotsawadi,ImeldaVeronicaGea. Jurnal Ekonomi Sakti. MenembusPasarGlobal:PerformadanDampakKeterbukaan Perdagangan Terhadap Ekspor Manufaktur Indonesia (Penetrating the Global Market: Performance and Impact of Trade Openness on Indonesian Manufacturing Exports. Volume 14 Nomor 1 –April 2025