Bangsri, Fokuspers.com — Di tengah arus produksi serba cepat, Imronah (56) memilih tetap setia pada cara lama. Di dapurnya yang sederhana, dengan tungku kayu dan cahaya lampu yang temaram, ia merawat rasa yang sudah dijaga bertahun-tahun dengan pelan, tapi pasti.
Setiap hari, aktivitasnya dimulai sejak dini hari. Sekitar pukul 02.00 WIB, ia sudah bersiap dari rumah, lalu berangkat ke pasar dan tiba sekitar pukul 03.00 WIB. Tanpa banyak jeda, dagangannya langsung ditata di atas meja, menyambut pembeli yang mulai berdatangan.
Imronah menjual jagung rebus dan lepet jagung. Di saat banyak pelaku usaha beralih ke mesin demi efisiensi, ia tetap bertahan dengan cara manual. Kelapa diparut sendiri, satu per satu, demi menjaga tekstur dan rasa yang menurutnya tidak bisa digantikan mesin.
“Setiap hari bisa habis sekitar 200 jagung dan 1.300 sampai 1.500 lepet jagung,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Kamis (23/04/26).
Harga yang ditawarkan pun terbilang ramah di kantong. Jagung rebus dijual mulai Rp1.000 untuk ukuran kecil, Rp1.300 hingga Rp1.500 ukuran sedang, dan Rp2.000 untuk ukuran besar. Sementara lepet jagung dijual Rp800 untuk bakul atau tengkulak, dan Rp1.000 untuk pembeli eceran.
Dalam proses produksi, Imronah tidak bekerja sendiri. Ia dibantu empat orang karyawan untuk membuat lepet jagung. Dari usaha tersebut, pendapatan hariannya berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Jika diakumulasikan, omzet bulanan bisa menembus lebih dari Rp30 juta. Penghasilan itu kemudian digunakan untuk menggaji karyawan, menutup modal, serta memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Perempuan yang sudah berjualan sejak 2011 ini mengaku usahanya cukup menopang kehidupan sehari-hari. Meski begitu, ia tetap menghadapi dinamika pasar.
“Alhamdulillah cukup untuk kebutuhan keluarga. Hanya saja, hari Jumat biasanya lebih sepi karena banyak pedagang libur,” tuturnya.
Salah satu pembeli, Diah, mengaku merasakan perbedaan pada lepet jagung buatan Imronah dibandingkan dengan produk lain.
“Menurut saya, proses manual seperti memarut kelapa sendiri tanpa mesin itu bikin tekstur dan rasanya lebih autentik. Rasanya juga konsisten, tidak berubah dan selalu enak,” ujarnya.
Di tengah tuntutan efisiensi, langkah Imronah mungkin terlihat lambat. Namun justru dari ketelatenan itulah, ia membuktikan bahwa menjaga tradisi tetap bisa membawa hasil yang tidak sedikit.












