Jepara, Fokuspers.com – Penguatan kapasitas pegiat menjadi salah satu kunci keberlanjutan gerakan literasi di masyarakat. Hal itu menjadi fokus Lokakarya Penguatan Kapasitas dan Pengembangan Komunitas Literasi yang digelar Rumah Belajar Ilalang di Joglo Coffee Gadu and Resto, Jepara, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Penguatan Karakter Anak melalui Literasi Berbasis Buku, Dongeng, dan Kearifan Lokal” yang mendapat dukungan Hibah untuk Komunitas Literasi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Sekitar 50 pegiat dan pengelola taman bacaan masyarakat (TBM) mengikuti lokakarya tersebut. Selain menjadi ruang berbagi pengalaman, kegiatan ini membahas tantangan gerakan literasi di tingkat lokal, praktik baik komunitas, serta cara mengembangkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Narasumber pertama, M. Ali Burhan, S.H., Ketua Forum TBM Kabupaten Jepara sekaligus Juara 2 Pengelola TBM se-Kabupaten Jepara Tahun 2024, membahas peran komunitas literasi dalam kehidupan masyarakat. Materi yang disampaikan mencakup pengertian komunitas literasi, contoh dan manfaatnya, hingga potensi yang dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan di lingkungan sekitar.
Ali menilai keberadaan komunitas literasi tidak semestinya terbatas pada aktivitas membaca atau menjadi tempat berkumpul. Menurutnya, komunitas perlu membuka ruang bagi masyarakat untuk saling belajar dan mengembangkan pengetahuan.
“Komunitas literasi harus mampu menjadi ruang yang hidup. Buku memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan dari buku itu kemudian menjadi sesuatu yang berguna dan dirasakan masyarakat,” ujar Ali.
Pembahasan kemudian diarahkan pada bagaimana komunitas menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam program. Siti Nuranisa, S.Pd., Pengurus PW Forum TBM Jawa Tengah sekaligus Juara 1 Pengelola TBM se-Kabupaten Jepara Tahun 2025, mengajak peserta mengenali tantangan dan peluang di komunitas masing-masing serta merancang program literasi yang kontekstual.
Siti menilai kedekatan program dengan kehidupan sehari-hari dapat membuat kegiatan literasi lebih mudah diterima masyarakat. Karena itu, buku tidak hanya ditempatkan sebagai bahan bacaan, tetapi dapat digunakan sebagai titik awal untuk berbagai kegiatan.
“Buku jangan hanya menjadi koleksi yang tersimpan di rak. Kita perlu mencari cara agar buku hadir dalam kehidupan masyarakat dan menjadi pintu masuk untuk belajar, berkarya, dan menyelesaikan persoalan yang ada di sekitar kita,” kata Siti.
Gagasan tersebut kemudian didiskusikan bersama peserta untuk melihat kemungkinan penerapannya di komunitas masing-masing. Lokakarya tidak hanya diisi pemaparan materi, tetapi juga memberi ruang bagi peserta untuk bertukar pengalaman dan membahas pengembangan kegiatan yang sesuai dengan kondisi lingkungan mereka.
Ketua Rumah Belajar Ilalang, Muhammad Hasan atau Den Hasan, mengatakan lokakarya tersebut ditempatkan sebagai kegiatan awal karena penguatan karakter anak juga berkaitan dengan kapasitas orang-orang yang mendampingi mereka.
“Kalau kita ingin anak-anak memiliki pengalaman literasi yang baik, maka orang-orang yang mendampingi mereka juga harus terus belajar. Pegiat literasi perlu memiliki kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, merancang kegiatan, dan menciptakan ruang belajar yang menyenangkan,” ujar Den Hasan.
Ia menambahkan, kedekatan komunitas dengan masyarakat memungkinkan kegiatan literasi menjangkau lebih banyak aspek kehidupan anak. Hubungan tersebut dapat mempertemukan buku dengan anak, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial di sekitarnya.
“Kami ingin literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca. Buku menjadi pintu masuk, kemudian anak-anak bisa mendengar cerita, menulis, menggambar, tampil, dan mengenali nilai-nilai yang ada di lingkungan mereka. Dari situlah karakter dan kreativitas bisa tumbuh,” lanjutnya.
Untuk melihat perkembangan pemahaman peserta, panitia juga memberikan pre-test dan post-test. Evaluasi tersebut digunakan untuk membandingkan pemahaman peserta sebelum dan setelah mengikuti lokakarya.
Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian program Rumah Belajar Ilalang. Agenda berikutnya adalah Pelatihan Dramatic Reading sebagai Metode Membaca Ekspresif pada 9 Agustus, Lokakarya Menulis Dongeng untuk Siswa SD dan SMP pada 15 Agustus, Pelatihan Menggambar Ilustrasi Dongeng/Cerita Rakyat pada 16 Agustus, dan Festival Membaca pada 6 September 2026.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Rumah Belajar Ilalang berharap pengetahuan yang diperoleh pegiat dapat diterapkan di komunitas masing-masing. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan turut menghidupkan ruang literasi di Jepara sebagai tempat membaca, belajar, berkarya, sekaligus mengenalkan nilai dan kearifan lokal kepada masyarakat.

