Decky Rochmanto Ungkap Filosofi Gula dan Garam dalam Perjalanan Menuntut Ilmu

Berita, Kampus163 Dilihat

Jepara,fokuspres.com – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Kampus Ar-Robbaniyyin Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara saat sivitas akademika mengikuti kultum setelah salat Zuhur berjamaah. Kultum disampaikan Deky Rochmanto, Wakil Dekan Bidang III Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNISNU Jepara.

Dalam tausiyahnya, Deky mengajak jamaah mengambil pelajaran kehidupan dari dua bahan sederhana yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, yakni gula dan garam. Menurutnya, keduanya memiliki karakter berbeda, tetapi sama-sama memberikan manfaat dalam kehidupan.

banner 336x280

“Marilah kita bersama-sama merenungkan sebuah pelajaran yang indah dan mendalam dari dua hal sederhana yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu gula dan garam,” ujar Deky saat menyampaikan Kultum Senin Siang , (10/8/2026).

Ia menjelaskan, gula identik dengan rasa manis dan memberikan kenikmatan ketika dicampurkan ke dalam makanan atau minuman. Sementara itu, garam meskipun tidak memiliki rasa manis, justru berperan memberikan cita rasa sekaligus membantu menjaga keseimbangan tubuh.

Perbedaan tersebut, lanjutnya, dapat menjadi gambaran karakter manusia dalam kehidupan sosial. Ada orang yang seperti gula, yakni lembut dalam berbicara, baik dalam bersikap, dan menyenangkan ketika berinteraksi. Ada pula orang yang seperti garam, yang mungkin tidak banyak tampil atau dikenal, tetapi kehadirannya memberikan manfaat besar bagi lingkungan.

Deky juga mengaitkan filosofi gula dan garam dengan perjalanan seseorang dalam menuntut ilmu. Menurutnya, semangat dan kecintaan terhadap ilmu perlu berjalan beriringan dengan kesabaran dan ketekunan.

“Seorang pencari ilmu membutuhkan gula dan garam sekaligus. Gula menjadi simbol semangat dan kecintaan terhadap ilmu, sedangkan garam menjadi simbol kesabaran dan ketekunan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa banyak orang memulai perjalanan menuntut ilmu dengan penuh semangat, tetapi tidak sedikit yang berhenti ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, keberhasilan membutuhkan kemampuan untuk memadukan optimisme dengan kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan.

Dalam bagian lain, Deky mengibaratkan gula dan garam yang larut dalam makanan sebagai gambaran keikhlasan seorang mukmin. Meskipun keberadaan gula dan garam tidak lagi terlihat setelah larut, rasa dan manfaatnya tetap dapat dirasakan. Begitu pula orang yang bekerja dengan ikhlas, tidak menjadikan popularitas dan pujian sebagai tujuan utama, tetapi berusaha memberikan manfaat bagi sesama.

“Marilah kita menjadi seperti gula dalam akhlak yang baik, dan seperti garam dalam memberikan manfaat, kesabaran, ketekunan, serta menjaga keikhlasan,” ajaknya.

Kultum tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kehidupan tidak hanya membutuhkan semangat untuk tampil dan dikenal, tetapi juga kesediaan untuk bersabar, bekerja dengan ikhlas, serta memberikan manfaat kepada orang lain. Nilai tersebut dinilai relevan bagi sivitas akademika dalam menjalankan aktivitas pendidikan, penelitian, pengabdian, maupun kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus.