Menag Harapkan NU Beri Spiritual Backup, Antarkan UIN Sunan Kudus Menuju Center of Supraterrestrial Dunia

Kudus, fokuspres.com– Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., berharap Nahdlatul Ulama (NU) dapat memberikan spiritual backup bagi UIN Sunan Kudus dalam mewujudkan cita-cita besar menjadi Center of Supraterrestrial dunia. Harapan tersebut disampaikan dalam kuliah umum sekaligus launching Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Kamis (20/8/2026).

Menteri Agama menegaskan bahwa transformasi UIN Sunan Kudus tidak boleh hanya dimaknai sebagai perubahan status kelembagaan. Menurutnya, pembangunan sarana prasarana dan pencapaian akademik memang penting, tetapi kampus juga harus memiliki karakter serta keunggulan yang khas.

banner 336x280

“Kita harus berani bermimpi besar dan berani berpikir lain. Bagaimana menciptakan suatu kampus yang bukan hanya meng-install pikiran-pikiran rasional, tetapi juga meng-install kualitas batin yang mampu mencerahkan dan meneduhkan,” tegas Nasaruddin Umar.

Ia menilai perguruan tinggi Islam memiliki peluang besar untuk menghadirkan model pendidikan yang berbeda. UIN Sunan Kudus, kata dia, tidak seharusnya hanya mengejar ketertinggalan atau berkiblat kepada kampus lain, melainkan perlu berani menjadi pelopor yang membangun keunggulan berdasarkan kekuatan dan jati dirinya sendiri.

“Jadilah kampus yang pertama. Jangan hanya berkiblat pada kampus lain,” pesannya.

Nasaruddin Umar kemudian mengaitkan visi tersebut dengan gagasannya mengenai Kudus sebagai daerah supraterestrial. Menurutnya, Kudus tidak hanya dapat dipahami sebagai wilayah geografis, tetapi juga memiliki kekayaan spiritual dan peradaban yang dapat dikembangkan menjadi identitas akademik UIN Sunan Kudus.

Dalam pandangannya, kekhasan Kudus memiliki resonansi dengan Al-Quds dan nilai keberkahan yang dikaitkan dengan Masjidil Aqsha. Di Nusantara, kekuatan tersebut juga berpijak pada warisan Sunan Kudus yang menunjukkan kemampuan Islam berkembang melalui kearifan, penghormatan terhadap keragaman, serta dialog dengan kebudayaan lokal.

“UIN itu jangan hanya mengejar ranking dan standar formal, tetapi create suatu keadaan yang mungkin belum ada kriterianya di dunia. Justru di situlah kampus bisa menemukan keunggulannya sendiri,” ujarnya.

Dalam mewujudkan cita-cita tersebut, Menteri Agama secara khusus berharap NU dapat memberikan spiritual backup kepada UIN Sunan Kudus. Dukungan spiritual tersebut dinilai penting agar transformasi akademik dan kelembagaan kampus tetap memiliki akar keagamaan, kebudayaan, dan peradaban yang kuat.

NU, menurut Menteri Agama, memiliki ekosistem keulamaan, pesantren, pendidikan, dakwah, dan kebudayaan yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat. Sinergi antara NU dan UIN Sunan Kudus diharapkan mampu mempertemukan kekuatan spiritual dengan kekuatan intelektual untuk melahirkan kontribusi bagi peradaban dunia.

Ia juga menyampaikan penghargaan Kementerian Agama terhadap perjalanan dan potensi UIN Sunan Kudus. Kehadirannya bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Kamaruddin Amin, M.A., disebut sebagai bentuk perhatian khusus terhadap institusi tersebut.

“Kami datang bersama Pak Sekjen. Ini merupakan suatu bentuk penghargaan. Ada alasan mengapa tempat ini kami anggap sebagai sesuatu yang sangat berharga, sebagai super treasure,” ungkapnya.

Rangkaian launching UIN Sunan Kudus diawali dengan menyapa mahasiswa baru, kemudian dilanjutkan dengan peresmian Gedung Kuliah Terpadu dan Laboratorium Terpadu. Peresmian tersebut menjadi bagian dari penguatan sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan, penelitian, serta inovasi.

Usai peresmian, Menteri Agama bersama jajaran juga melakukan penanaman pohon sebagai implementasi ekoteologi. Kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen UIN Sunan Kudus dalam mengintegrasikan nilai keagamaan, ilmu pengetahuan, dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kudus Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, M.A., memaparkan perjalanan panjang institusi hingga bertransformasi menjadi UIN Sunan Kudus. Ia juga menjelaskan sejumlah capaian yang telah diraih dalam bidang akademik, kelembagaan, penelitian, publikasi ilmiah, pengembangan sumber daya manusia, dan sarana prasarana.

Transformasi menjadi UIN Sunan Kudus, menurut Rektor, bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan momentum untuk memperluas dan mengintegrasikan pengembangan ilmu pengetahuan.

Launching UIN Sunan Kudus pun menjadi titik awal untuk membangun peradaban akademik baru yang memadukan keilmuan, inovasi, spiritualitas, ekoteologi, serta kearifan lokal warisan Sunan Kudus. Melalui dukungan spiritual NU dan penguatan intelektual perguruan tinggi, UIN Sunan Kudus diharapkan mampu mengembangkan identitasnya sendiri dan mengambil peran dalam percaturan peradaban dunia.