Meski Terik, Cilok Mang Jaja Tak Pernah Kehilangan Pembeli

Kuliner40 Dilihat

Tahunan, FokusPers.com – Matahari siang tepat berada di ubun-ubun, memanggang aspal di depan kampus UNISNU Jepara. Di bawah sapaan terik yang menyengat, deretan gerobak jajanan berbaris rapi layaknya barisan penyelamat. Aroma gurih dari bakso, batagor, hingga pentol kriwil menyeruak di tengah udara yang kian menyesak. Namun, di tengah lautan peluh itu, pemandangan paling padat tetap bermuara pada satu titik: gerobak Cilok Mang Jaja, tempat di mana rasa lapar dan panas seolah terlupakan oleh nikmatnya bumbu kacang.

Jaja (49) mengungkapkan bahwa usaha berjualan cilok dimulai dimulai sejak 2015 sampai sekarang. Usaha yang berada di depan UNISNU kini lumayan membuahkan hasil. Cilok mang Jaja dibuka mulai dari jam 7 pagi sampai pukul 5 sore.

“Alhamdulillah, pendapatan kami satu bulan bisa meraup untung sekitar 5 juta-an. Bisa kurang, bisa lebih. Kalau soal harganya, kita menyesuaikan pelanggan. Bisa 3 ribu, bisa 5 ribu. Tergantunglah,” ungkap Jaja saat diwawancarai FokusPers.com di depan kampus UNISNU Jepara, Jum’at (24/4/26)

“Saya asli Ciamis mbak, dan saya sangat bersyukur merantau saya tidak sia-sia. Cukup untuk membiayai anak-anak sekolah dan tetap menafkahi istri dan keluarga,” imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa rahasia kerenyahan cilok ada pada siraman air mendidih ke adonan tapioca. Teknik ini memastikan cilok buatannya tetap kenyal dan tidak alot meski cuaca sedang panas menyengat. Setelah dibentuk bulat dan direbus hingga mengapung, cilok tersebut dikukus kembali untuk mengunci aroma daun bawangnya.

“Cilok Mang Jaja itu jajan andalanku sepulang kuliah. Rasanya selalu enak meski cuaca sedang terik. Ditambah bumbu pedasnya yang bisa menghilangkan stress,” ungkap rima, salah satu pelanggan cilok Mang Jaja.