
Said, lahir di Jepara pada 10 Februari 1963, merupakan sosok pria sederhana yang tegas, pekerja keras, dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Berperawakan sedang dengan kulit sawo matang khas masyarakat pedesaan, penampilannya mencerminkan kesahajaan yang telah melekat dalam dirinya sejak kecil. Tumbuh di Desa Bawu dalam keluarga sederhana sebagai salah satu dari tiga bersaudara, Said telah menempa ketangguhan hidup sejak usia muda. Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs), ia harus mengubur impian untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) akibat keterbatasan ekonomi keluarga. Demi membantu perekonomian keluarga, ia memilih merantau ke Surabaya untuk bekerja. Perjalanan hidup yang penuh perjuangan tersebut kemudian membawanya hingga ke Kediri, Jawa Timur, tempat ia bertemu dengan perempuan yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Di sela profesinya sebagai tukang kayu, Said mengabdikan diri sebagai muadzin masjid, sebuah amanah yang dijalankannya dengan penuh keikhlasan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Swt. dan masyarakat. Meski dikenal sebagai pribadi yang tegas, sifat tersebut justru mencerminkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, serta kepedulian yang besar terhadap keluarga dan lingkungan di sekitarnya.
Said mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar (SD) di Desa Bawu, Jepara. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) di desa yang sama. Meskipun memiliki semangat belajar yang tinggi, keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Keadaan tersebut mendorongnya memilih jalan hidup sebagai seorang perantau demi membantu perekonomian keluarga sekaligus mencari pengalaman hidup yang lebih luas.
Perjalanan merantau membawanya ke Surabaya dan kemudian ke Kediri, Jawa Timur. Di tanah rantau, Said menjalani berbagai pekerjaan dengan penuh ketekunan. Ia pernah bekerja sebagai tukang ukir, buruh pabrik, hingga akhirnya menekuni profesi sebagai tukang kayu. Beragam pengalaman tersebut membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, dan pantang menyerah. Baginya, setiap pekerjaan memiliki nilai kehormatan selama dijalankan dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Di tengah kesibukannya mencari nafkah, Said tetap mengabdikan dirinya sebagai muadzin masjid. Amanah tersebut dijalankannya dengan penuh keikhlasan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Swt. sekaligus kepeduliannya terhadap kehidupan keagamaan masyarakat di sekitarnya.
Perjalanan hidup Said tidak selalu berjalan mulus. Sejak kecil, ia telah menghadapi berbagai cobaan yang berat. Ia harus menerima kenyataan ditinggal oleh ayah dan adiknya, sebuah peristiwa yang meninggalkan duka mendalam bagi dirinya dan keluarga. Di sisi lain, kondisi ekonomi yang serba terbatas menjadi tantangan besar yang harus dihadapinya. Namun, berbagai kesulitan tersebut tidak pernah membuatnya menyerah. Justru, pengalaman pahit itu menjadi motivasi untuk terus bekerja keras, berusaha, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi masa depannya.
Dalam kehidupan pribadi, Said dikenal sebagai sosok kepala keluarga yang sederhana, tegas, dan penuh tanggung jawab. Ia menikah dengan Mita Marliana dan dikaruniai empat orang anak, yaitu Syaiful Aris sebagai anak pertama, Muhammad Ana sebagai anak kedua, Nina Istiana sebagai anak ketiga, serta Vicka Putri Naila sebagai anak keempat. Bersama sang istri, ia membangun keluarga yang harmonis dengan menanamkan nilai-nilai kerja keras, kejujuran, kesederhanaan, serta pentingnya pendidikan kepada anak-anaknya. Baginya, pendidikan merupakan bekal yang harus dimiliki agar anak-anaknya dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik daripada yang pernah ia rasakan.
Ketekunan, kerja keras, dan kesediaannya untuk terus berjuang dalam berbagai keadaan akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Pengalaman merantau, bekerja sebagai tukang ukir, buruh pabrik, hingga menjadi tukang kayu memberinya banyak pelajaran tentang arti perjuangan dan pengorbanan. Hasil dari jerih payahnya kini dapat dirasakan oleh seluruh keluarganya. Salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya adalah keberhasilannya menyekolahkan keempat anaknya hingga menyelesaikan pendidikan, bahkan mampu mengantarkan anak pertama dan anak bungsunya menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Bagi Said, keberhasilan tersebut merupakan buah dari perjuangan panjang yang telah dilaluinya sekaligus menjadi kebanggaan terbesar dalam hidupnya.
Perjalanan hidup Said merupakan cerminan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kehilangan orang-orang tercinta, keterbatasan ekonomi, dan berbagai pekerjaan berat yang pernah dijalaninya justru menempa dirinya menjadi pribadi yang tangguh, sederhana, dan pantang menyerah. Melalui kerja keras sebagai perantau, tukang ukir, buruh pabrik, dan tukang kayu, serta pengabdiannya sebagai muadzin masjid, Said berhasil membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Dalam menjalani kehidupan, Said selalu berpegang teguh pada nasihat yang menjadi pedoman hidupnya, yaitu, “Wong pinter bakal kalah karo wong bejo.” Bagi dirinya, keberuntungan tidak datang begitu saja, melainkan harus diiringi dengan usaha, doa, dan kesabaran. Prinsip tersebut menjadi pegangan dalam setiap langkah hidupnya, mulai dari menghadapi keterbatasan ekonomi, menjalani kehidupan sebagai perantau, hingga membesarkan anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab.
Kisah hidup Said mengajarkan bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari harta atau jabatan, tetapi juga dari kemampuan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan semangat pantang menyerah, ketegasan, dan keikhlasan yang dimilikinya, Said menjadi inspirasi bahwa setiap kesulitan dapat diatasi melalui kerja keras, doa, dan keyakinan kepada Allah Swt. Warisan terbesar yang ia tinggalkan bukanlah materi, melainkan nilai-nilai kehidupan tentang tanggung jawab, kejujuran, kerja keras, dan pengabdian yang akan terus menjadi teladan bagi keluarga dan generasi berikutnya.














