Edukasi Pengelolaan Limbah Ekologis: Mahasiswa KKN UNISNU Jepara Olah Sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos di Desa Semat

Berita15 Dilihat

SEMAT, JEPARA — Persoalan sampah rumah tangga, khususnya limbah organik, kerap menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat pedesaan jika tidak dikelola dengan baik. Menjawab permasalahan tersebut, kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara yang tengah melaksanakan masa pengabdian di Desa Semat, sukses menggelar program kerja utama mereka. Program inovatif yang berfokus pada pelestarian lingkungan ini berupa pelatihan dan praktik pembuatan pupuk kompos berbahan dasar sampah organik, yang dilaksanakan di area sekitar posko KKN pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Kegiatan edukatif ini bukan sekadar pemenuhan program kerja kampus, melainkan langkah nyata mahasiswa untuk hadir memberikan solusi di tengah masyarakat. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh temuan tim KKN mengenai banyaknya sampah organik sisa rumah tangga dan limbah pertanian yang berserakan serta belum dimanfaatkan secara maksimal oleh warga setempat. Jika dibiarkan, tumpukan sampah ini tidak hanya mengganggu estetika lingkungan desa, tetapi juga berpotensi menimbulkan bau tak sedap dan memicu penyakit.

Guna mengatasi hal tersebut, tim mahasiswa KKN UNISNU Jepara berinisiatif mengumpulkan berbagai material organik yang mudah ditemukan di sekitar permukiman warga Desa Semat. Bahan baku yang digunakan sangat beragam, mulai dari dedaunan kering yang berguguran, gedebog (batang) pisang yang sudah tidak terpakai, sisa-sisa sayuran dapur yang tak layak konsumsi, hingga rumput liar yang tumbuh di pekarangan rumah.
Proses pengolahan sampah organik ini tentu tidak dilakukan secara sembarangan. Agar menghasilkan pupuk kompos yang berkualitas tinggi, para mahasiswa dimentori secara langsung oleh Maryadi, seorang praktisi yang telah berpengalaman luas dalam bidang pengelolaan sampah sejak tahun 2007. Dalam pelaksanaannya, ia memberikan arahan teknis secara detail kepada mahasiswa mengenai tahapan krusial dalam pembuatan kompos, mulai dari pencacahan bahan agar lebih mudah terurai, pengaturan tingkat kelembapan, hingga proses fermentasi yang tepat.
Dalam praktiknya, Maryadi menjelaskan bahwa kunci keberhasilan kompos terletak pada keseimbangan bahan baku dan ketersediaan sirkulasi udara. Oleh karena itu, mahasiswa diajarkan untuk melubangi wadah agar terdapat sirkulasi udara (aerasi) yang baik bagi mikroorganisme pengurai. Bahan-bahan organik yang telah dicacah kecil kemudian dimasukkan secara berlapis, disiram dengan cairan dekomposer, lalu ditutup untuk proses penguraian selama beberapa minggu. Pendekatan aplikatif ini dinilai sangat mudah ditiru oleh warga di rumah mereka masing-masing tanpa memerlukan peralatan mahal.
Menariknya, program ini juga mengedepankan prinsip reduce, reuse, recycle (3R). Sebagai wujud nyata dari pemanfaatan barang bekas, tim KKN menggunakan galon air mineral purnapakai sebagai wadah komposter. Penggunaan galon bekas ini dipilih alih-alih membeli wadah plastik pabrikan yang baru, guna menekan biaya produksi sekaligus mengurangi volume limbah plastik keras di lingkungan sekitar.
Tidak berhenti pada proses produksi awal saja, tim KKN UNISNU Jepara memiliki visi jangka panjang agar program ini tidak terhenti setelah masa pengabdian mereka usai. Guna memastikan keberlanjutan dan perluasan jangkauan manfaat dari program ini, mahasiswa secara resmi menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Semat sebagai mitra strategis. Kemitraan ini dirancang agar kelak BUMDes dapat menjadi wadah untuk memproduksi pupuk secara terpadu, mendistribusikannya kepada para petani lokal, hingga memasarkannya untuk menambah Pendapatan Asli Desa (PADes).

banner 336x280

Langkah strategis ini disambut dengan sangat antusias oleh pihak desa. Ketua BUMDes Semat, Mu’awanah, menyatakan bahwa kolaborasi dengan mahasiswa KKN UNISNU ini sangat sejalan dengan kondisi desa yang masih terus berupaya mencari formula yang tepat untuk menangani limbah rumah tangga masyarakat.
“Masalah penumpukan sampah organik ini memang masih menjadi PR dan permasalahan utama bagi kami di Desa Semat. Selama ini, masyarakat terkadang bingung bagaimana memanfaatkannya. Oleh karena itu, kami merasa sangat terbantu dengan adanya program pembuatan pupuk kompos dari teman-teman mahasiswa KKN ini. Ini menjadi solusi yang sangat pas,” ungkap Mu’awanah.
Senada dengan pernyataan tersebut, Koordinator Mahasiswa Desa (Kormades) KKN Desa Semat, Affandi, menegaskan bahwa kemitraan dengan BUMDes merupakan ujung tombak untuk keberlanjutan program pengolahan limbah ini ke depannya.
“Kami mengambil mitra BUMDes untuk program kemitraan ini. Harapan ke depannya, sisa-sisa makanan atau sampah organik dari warga sekitar tidak lagi terbuang sia-sia menjadi masalah, melainkan bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai. Pupuk yang dihasilkan ini akan sangat bermanfaat bagi pertanian atau perkebunan warga, sekaligus menekan biaya pembelian pupuk kimia,” jelas Affandi.
Melalui edukasi komprehensif dan praktik terpadu ini, tingkat kesadaran masyarakat Desa Semat dalam memilah dan mengolah limbah organik diharapkan kian meningkat. Limbah yang sebelumnya hanya dipandang sebelah mata sebagai kotoran, kini telah terbukti dapat diubah menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan. Pupuk ini tidak hanya mampu mengembalikan unsur hara dan menyuburkan tanah pertanian secara alami, tetapi juga memiliki prospek nilai ekonomis yang menjanjikan apabila dikelola secara profesional oleh pihak BUMDes.
Langkah kecil namun berdampak besar dari mahasiswa KKN UNISNU Jepara ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Melalui kolaborasi yang baik, limbah yang tak berharga pun dapat diubah menjadi inovasi yang membawa berkah bagi desa.