JEPARA,fokus.pers – Suasana siang di Masjid Kampus Ar-Robbaniyyin Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara terasa khidmat. Sejumlah jamaah yang mengikuti salat Zuhur berjamaah tampak menyimak dengan saksama kultum yang disampaikan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Muhammad Nofan Zulfahmi, Senin (2/11/2026).
Dalam kultum tersebut, Muhammad Nofan mengajak jamaah untuk merenungkan fenomena pergantian musim atau pancaroba sebagai salah satu tanda kebesaran Allah SWT. Menurutnya, perubahan cuaca dari musim kemarau menuju penghujan maupun sebaliknya bukan sekadar fenomena alam, melainkan mengandung hikmah dan pelajaran bagi kehidupan manusia.
Ia menjelaskan bahwa pergantian musim merupakan bagian dari ayat kauniyah yang semestinya mendorong manusia untuk semakin mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah.
“Pergantian musim mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia bersifat dinamis dan tidak kekal. Sebagaimana musim yang terus berganti, kehidupan manusia juga mengalami perubahan. Ada kalanya kita berada dalam kelapangan, tetapi ada pula saat menghadapi berbagai ujian,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Ia kemudian mengutip QS Ali Imran ayat 190–191 yang menjelaskan bahwa penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir.
Menurutnya, seorang muslim tidak cukup hanya menyaksikan perubahan alam, tetapi juga perlu mengambil pelajaran melalui zikir dan tafakur. Kesadaran tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap tawakal dan kesiapan hati dalam menghadapi berbagai keadaan.
Selain mengajak jamaah bertafakur, Muhammad Nofan juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan ketika menghadapi perubahan cuaca. Ia menilai, tidak sedikit orang yang mudah mengeluh ketika cuaca panas maupun saat hujan turun.
Padahal, Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan agar umat Islam tidak mencela angin maupun kondisi cuaca, tetapi senantiasa memohon kebaikan kepada Allah.
“Ketika menghadapi perubahan cuaca, hendaknya kita tidak mudah mengeluh atau mencela keadaan. Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk berdoa dan memohon kebaikan dari setiap fenomena alam yang terjadi,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan jamaah tentang doa ketika turun hujan, yakni Allahumma shayyiban nafi’an, yang berarti memohon agar hujan menjadi hujan yang membawa manfaat.
Lebih lanjut, Muhammad Nofan menyampaikan bahwa menghadapi musim pancaroba tidak cukup hanya dengan doa, tetapi perlu disertai ikhtiar nyata. Menurutnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal kepada Allah dan usaha menjaga keselamatan serta kemaslahatan kehidupan.
Ia memaparkan tiga hal penting yang perlu diperhatikan masyarakat dalam menghadapi perubahan musim, yakni menjaga kesehatan fisik, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, serta membangun literasi digital dan solidaritas sosial.
Dalam aspek kesehatan, ia mengingatkan bahwa perubahan cuaca dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), influenza, dan demam berdarah dengue (DBD). Karena itu, masyarakat perlu menjaga pola makan, mencukupi waktu istirahat, serta memperhatikan kebersihan lingkungan dan tempat tinggal.
“Menjaga kesehatan merupakan bagian dari ikhtiar kita dalam merawat amanah Allah berupa tubuh yang harus dijaga dengan baik,” tuturnya.
Pada aspek lingkungan, ia menyoroti persoalan banjir dan genangan air yang kerap terjadi ketika musim hujan. Menurutnya, persoalan tersebut tidak terlepas dari perilaku manusia yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan dan mengabaikan saluran air.
Ia mengajak jamaah memulai kepedulian lingkungan dari hal-hal sederhana, seperti membersihkan selokan, menanam pohon, dan mengelola sampah rumah tangga. Ia juga mengaitkan pesan tersebut dengan QS Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia.
Sementara itu, dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi, Muhammad Nofan mengingatkan jamaah agar lebih bijak menggunakan media sosial, terutama ketika terjadi cuaca ekstrem.
Menurutnya, masyarakat perlu menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi, termasuk kabar bohong atau hoaks mengenai prakiraan cuaca yang berpotensi menimbulkan kepanikan.
“Gunakan teknologi untuk memperoleh informasi dari sumber resmi, seperti BMKG. Selain itu, ketika terjadi bencana, mari kita tumbuhkan solidaritas sosial dengan membantu saudara-saudara kita yang terdampak,” pesannya.
Melalui kultum tersebut, ia berharap jamaah tidak hanya memandang pergantian musim sebagai peristiwa alam biasa, tetapi juga menjadikannya momentum untuk meningkatkan keimanan, menjaga kesehatan, merawat lingkungan, dan memperkuat kepedulian sosial.
Pergantian musim, menurutnya, menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk senantiasa bersyukur, berdoa, dan melakukan ikhtiar terbaik dalam menjalani kehidupan.









