Saat Ulama Wafat dan Ilmu Terangkat, Ini Pesan KH. Abdul Wahab

Berita, Kampus, Religi93 Dilihat

Jepara, fokuspres.com – Suasana Masjid Ar-Robbaniyyin Kampus Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara berlangsung hening dan khidmat ketika jamaah mengikuti kultum yang disampaikan Wakil Rektor Bidang III UNISNU Jepara, KH. Abdul Wahab.

Kultum tersebut merupakan bagian dari kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap Senin dan Kamis sebagai upaya memperkuat nilai-nilai keislaman dan spiritualitas sivitas akademika di lingkungan Kampus UNISNU Jepara.

banner 336x280

Dalam tausiyahnya, KH. Abdul Wahab mengangkat pembahasan tentang pentingnya menjaga dan menghormati ilmu serta ulama. Materi tersebut merujuk pada hadis yang dijelaskan dalam Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar al-Asqalani, mengenai bagaimana ilmu dapat berkurang dari tengah kehidupan masyarakat.

KH. Abdul Wahab menjelaskan bahwa Allah SWT tidak menghilangkan ilmu secara tiba-tiba dari hati manusia, melainkan ilmu dapat terangkat melalui wafatnya para ulama.

“Allah SWT tidak mencabut ilmu begitu saja dari manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan wafatnya para ulama,” ujar KH. Abdul Wahab di hadapan jamaah masjid Ar-Robbaniyyin Unisnu Jepara, Kamis, (27/8/26).

Menurutnya, wafatnya seorang alim bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan lingkungan terdekatnya, melainkan juga menjadi kehilangan besar bagi umat. Sebab, seorang ulama memiliki peran penting dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya.

“Ketika seorang alim meninggal dunia, sesungguhnya umat kehilangan salah satu sumber ilmu dan keteladanan. Karena itu, kita harus menghargai para ulama dan mengambil ilmu dari mereka selama masih diberikan kesempatan,” tuturnya.

Lebih lanjut, KH. Abdul Wahab menyampaikan bahwa kondisi yang perlu diwaspadai adalah ketika para ulama telah banyak meninggal dunia, sementara masyarakat tidak lagi memiliki rujukan yang benar dalam persoalan keagamaan.

Ia mengutip pesan Rasulullah SAW bahwa ketika orang-orang berilmu telah tiada, masyarakat dapat menjadikan orang-orang yang tidak memiliki ilmu sebagai pemimpin atau rujukan. Ketika mereka dimintai fatwa atau pendapat mengenai persoalan agama, mereka memberikan jawaban tanpa didasari pengetahuan yang memadai.

“Nanti ketika orang-orang alim telah banyak meninggal, yang tersisa bisa jadi adalah orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Ketika mereka dimintai fatwa, mereka memberikan fatwa tanpa ilmu. Akibatnya, mereka sendiri tersesat dan juga menyesatkan orang lain,” jelasnya.

Pesan tersebut, menurut KH. Abdul Wahab, menjadi pengingat penting bagi umat Islam, khususnya di tengah derasnya arus informasi pada era digital. Masyarakat perlu berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi keagamaan serta memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh bersumber dari guru dan ulama yang memiliki kompetensi serta keilmuan yang jelas.

“Sekarang kita bisa dengan mudah memperoleh berbagai informasi melalui media sosial. Namun, kemudahan mendapatkan informasi tidak selalu berarti bahwa semua informasi tersebut benar. Karena itu, kita harus belajar kepada ahlinya dan tidak mudah memberikan pendapat atau fatwa tanpa dasar ilmu,” tegasnya